Apel gelar pasukan dalam rangka Antisipasi Bencana Alam di Wilayah Maluku yang berlangsung di Lapangan Tahapary, Tantui, Kota Ambon, Selasa (24/11/2020)
Apel gelar pasukan dalam rangka Antisipasi Bencana Alam di Wilayah Maluku yang berlangsung di Lapangan Tahapary, Tantui, Kota Ambon, Selasa (24/11/2020)

BERITABETA.COM, Ambon – Pasca pandemic Covid-19 melanda Kota Ambon terjadi penurunan pengunjung yang berobat ke sejumlah Puskesmas di Kota Ambon mencapai 30 – 40 persen.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Ambon drg. Wendy Pelupessy kepada media mengaku terjadinya penurunan jumlah pengungjung ke Puskesmas ini, karena masyarakat takut berobat ke Puskesmas.

“Sejak adanya pandemi Covid-19, kunjungan ke Puskesmas menurun karena memang masyarakat masih enggan atau takut. Apalagi banyak beredar berita bohong jika  ke Puskesmas, nanti di-rapid,” ungkap Wendy, Selasa (25/11/2020).

Wendy memastikan, akibat dari ketakutan warga ini dapat terlihat dari dari jumlah kunjungan masyarakat untuk berobat di Puskesmas yang menurun drastis.

“Pengunjung Puskesmas saat ini bisa mencampai 30 hingga 40 persen dari biasanya dari kondisi sebelum adanya pandemi Covid-19 di kota Ambon,” tandasnya.

Ia mencontohkan,  pada Puskesmas Ch. M. di Kelurahan Ahusen Kecamatan Sirimau Kota Ambon, terjadi penurunan jumlah pasien dalam sehari bisa dari jumlah sebelumnya yang bisa mencapai 200 orang, kini Puskesmas itu hanya dikunjungi 70 hingga 80 pasien saja.

Maksimal jumlah pasien yang berobat ke Puskesmas saat ini cuma orang 100 per hari, itu pun hanya di hari senin. Sementara hari berikutnya tidak lagi, hanya bisa sampai 70 hingga 80 pasien.

Ia mengaku, banyak pengunjung yang ke Puskesmas itu hanya untuk keperluan  rapid test. Rata-rata mereka yang ingin melakukan perjalanan antar daerah di Maluku dan membutuhkan rapid test.  Sedangkan untuk kebutuhan berobat jumahnya sangat sedikit.

“Banyak yang datang itu hanya untuk rapid test, itu pun bagi pelaku perjalanan keluar Kota Ambon, sedangkan untuk yang berobat semakin menurun,” jelasnya.

Pihaknya, kata Wendy,  sudah memberikan solusi agar masyarakat tetap mau berobat dan berkonsultasi dengan dokter di Puskesmas dan menghindari kontak dengan tenaga kesehatan. Kebijakan itu adalah dengan membuka pelayanan melalui via handphone.

Misalnya, pelayanan obat bagi pasien dengan comorbid atau penyakit penyerta, itu bisa dilakukan melalui telepon, selanjutnya akan diantar oleh petugas atau ojek yang datang ke puskesmas.

Ia menyampaikan, masyarakat yang membutuhkan perobatan maksimal, bisa langsung datang ke Puskesmas untuk berobat. Disana akan dibagi jalurnya. Misalnya, panas turun melebih normal, ada gejala-gejala inflensa itu jalurnya dipisahkan sendiri.

“Jadi masyarakat tidak perlu takut untuk berkunjung ke Puskesmas, karena pelayanan di Puskesmas sudah memenuhi standar protocol kesehatan,” tandas Wendy (BB-ES)