Kedua, kreatif. Perempuan dinilai lebih jeli melihat peluang, dibandingkan dengan pria. Terkadang hal yang tidak terterpikirkan oleh para pria dan dinilai merupakan langkah sepele, justru bisa mendatangkan keuntungan dan kesuksesan bila dilakukan oleh kaum perempuan.

Ketiga, telaten. Perempuan lebih teliti dalam menjalankan kegiatan, contohnya kegiatan bisnis. Hal-hal detail dalam bisnis, seperti urusan packaging, labeling, atau hal kecil lainnya, sangat dipikirkan oleh perempuan. Sehingga membuat produknya menjadi lebih menarik, dan memiliki daya jual yang tinggi.

Dan, keempat, tidak mudah putus asa dalam kehidupan. Perempuan dinilai lebih tangguh dan tidak mudah putus asa ketika mengalami kegagalan. Perempuan itu ibarat akar tumbuhan yang terus mencari cara untuk tumbuh dan sukses. Ketika menghadapi kegagalan, perempuan memiliki daya juang yang tinggi dan lebih sabar untuk memulai segala sesuatunya dari bawah.

Kebangkitan banyak politisi perempuan  di dunia menjadi tanda baik,  sebenarnya menandai babak baru perubahan citra politik yang maskulin. Perempuan  oleh banyak orang dianggap bisa lebih dipercaya untuk menjalankan tugas-tugas publik dan kepartaian, serta tidak mudah terjebak dalam maskulinitas politik dan kekuasaan tradisional yang lahir dari sifat-sifat laki-laki. Perempuan lebih lunak dan soft “berselingkuh’ merebut  hati  rakyat, ketimbang laki-laki.

Dia membawa serta jiwa peyanyang dalam ruang-ruang publik. Dia juga peka melihat berbagai persoalan yang terjadi saat ini. Kemiskinan, kesenjangan dan kemerosotan kerap banyak diperjuangkan politisi perempuan.

Atas semua kelebihan perempuan diatas, wajar kini banyak politisi perempuan mendapat tempat di hati rakyat. Mereka (politisi perempuan) masih saja mewarisi sikap dan sifat  Cleopatra. Mereka memperlakukan rakyat seperti  Cleopatra meluluhkan  hati Ptolemeus XIII dan Kaisar Romawi Julius Caesar. Mereka juga pandai melihat ancaman dan peluang seperti Cleopatra memikat hati jenderal Marcus Antonius.

Warisan sikap dari sang legenda Cleopatra kini terus dilakukan dan sepertinya bakal kembali menuai hasil gemilang di Pemilu 2019. Di Maluku khususnya, politisi perempuan banyak “berselingkuh” dengan rakyat  dan mampu merebut hati konstituen,  ketimbang politisi laki-laki.

Meski statemen ini harus kembali diuji  dengan sebuah data ilmiah, namun fenomena menguatnya ‘tancapan kuku’ politisi perempuan di Maluku kerap terlihat mendominasi dan menunjukan ekskalasi yang tinggi pada kontestasi politik lokal belakangan ini.

Satu pembuktian dari fenemone ini dapat dijumpai pada Pemilu legislatif, khususnya DPD/DPR RI dapil Maluku. Pemilu 2014 silam, kembangkitan politisi perempuan sudah berada di posisi yang sangat kuat.

Tampilnya Mercy Barends dan Rohani Vanath  ke kursi Senayan, kemudian Ana Latuconsina, Novita Anakotta ke kursi senator,  sesungguhnya pertanda  bahwa kaum hawa lebih lihai “berselingkuh” dengan rakyat.