Pasangan Capres-Cawapres Jokowi-Maruf Amin dan Prabowo Subianto – Sandiaga Salahudin Uno
Pasangan Capres-Cawapres Jokowi-Maruf Amin dan Prabowo Subianto – Sandiaga Salahudin Uno

BERITABETA.COM, Ambon – Tahun 2018 sebentar lagi akan berlalu. Banyak kisah menarik yang terekam di memory kolektif masyarakat  Indonesia. Teristimewa terkait dengan berbagai momentum politik menjelang Pemilu 2019 mendatang.

Masyarakat yang melek teknologi pastinya akan sangat fasih dengan kata-kata yang populer yang diucapkan para tokoh politik di tahun 2018. Siapa lagi kalau bukan dua pasang Capres-Cawapres Joko Widodo-KH Ma’ruf Amin dengan Prabowo Subianto – Sandiaga Uno yang terus gencar berjuang memenangkan pertarungan di Pilpres mendatang.

Saling serang dan kritik dua kubu telah dilakukan meski pemilihan baru dilakukan pada April 2019 mendatang. Dan tahun politik lebih banyak dihiasi saling sindir dan lempar kata-kata. Baik dari capres, cawapres, hingga tim sukses masing-masing. Permainan kata-kata menambah panas suhu politik dalam negeri.

Berikut terdapat lima kata yang paling popular dilontarkan kedua kubu dan menjadi perhatian dan ramai diperbincangkan public di tanah air. Bahkan ada yang berujung dibawa ke ranah hukum. Berikut lima kata yang ramai diucapkan sepanjang 2018:

1.Jenderal Kardus

Wasekjen Demokrat Andi Arief di Rumah Susilo Bambang Yudhoyono ( SBY)

Di detik-detik terakhir pendaftaran capres-cawapres, suhu politik Indonesia makin panas. Kubu Prabowo Subianto mulai muncul friksi. Di mana Partai Demokrat merasa dikhianati Prabowo sehingga keluar sebutan ‘jenderal kardus’ kepada Ketua Umum Partai Gerindra tersebut.

Saling serang pun tak terelakkan, Gerindra membalas pernyataan Demokrat dengan sebutan jenderal baper yang ditujukan kepada Ketua Umum Susilo Bambang Yudhoyono ( SBY).

Demokrat murka dengan sikap Ketua Umum Partai Gerindra, Prabowo Subianto karena telah ‘selingkuh’ dari partai berlambang mercy itu. Prabowo dituding menerima lobi-lobi politik di luar sepengetahuan Demokrat dalam menentukan cawapres.

Awalnya calon kuat pendamping Prabowo Subianto adalah Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), Salim Segaf dan Ustaz Abdul Somad. Akan tetapi di akhir-akhir pendaftaran capres-cawapres, muncul nama Wagub DKI Sandiaga Uno sebagai pasangan Prabowo di Pilpres 2019 mendatang.

“Pertama Demokrat itu dalam posisi diajak oleh Jenderal Prabowo untuk berkoalisi. Diajak ya, kita tidak pernah menawarkan siapa-siapa (berkoalisi) walau Pak Prabowo menawarkan AHY untuk jadi wakilnya,” tegas Wasekjen Demokrat Andi Arief di Rumah Susilo Bambang Yudhoyono ( SBY), Jalan Kuningan, Jakarta Selatan, Kamis (9/8) dini hari.

“Tapi hari ini kami mendengar justru sebaliknya. Ada politik transaksional yang sangat mengejutkan. Itu membuat saya menyebutnya jadi jenderal kardus, jenderal yang enggak mau mikir!” tegas dia.

Selain sebutan jenderal kardus, Wasekjen Demokrat Andi Arief mengungkap bahwa ada uang Rp 500 miliar yang diberikan kepada PAN dan PKS dari Wakil Ketua Dewan Pembina Gerindra Sandiaga Uno. Andi yakin, Prabowo telah melakukan politik transaksional dengan menerima suntikan dana segar sebesar Rp 500 miliar. “Benar, saya dengar dan bisa dicek dalam karir politik saya bahwa saya tidak pernah bohong,” kata Andi di Rumah Susilo Bambang Yudhoyono ( SBY), Jalan Kuningan, Jakarta Selatan, Kamis (9/8) dini hari. Setelah serangkaian drama politik di koalisi, Sandi pun terpilih jadi Cawapres.

2. Sontoloyo

Capres nomor urut 1 Jokowi menjelaskan kepada pers terkait makna kata Sontoloyo

Presiden Joko Widodo (Jokowi) geram lantaran rencana penganggaran Dana Kelurahan jadi polemik. Dia heran niat baik pemerintah ingin membantu rakyat justru dipolitisasi.

“Tahun depan akan ada dana di kelurahan untuk perbaiki jalan, selokan, kok jadi ramai. Kita semua ingin agar untuk rakyat jangan dihubung-hubungkan dengan politik,” katanya di Lapangan Bola Ahmad Yani, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, Selasa (23/10).

“Mohon maaf kalau semua dihubungkan dengan politik tapi kehidupan bukan politik saja, ada sosial, budaya, ekonomi. Kenapa semua dihubungkan dengan politik?” sambung Jokowi.

Mantan Gubernur DKI Jakarta itu lantas mengingatkan rakyat agar hati-hati dengan para politikus. Sebab, kata dia, ada banyak politikus baik di Tanah Air, namun ada juga politikus sontoloyo.

“Hati-hati banyak politikus baik-baik tapi banyak juga politikus sontoloyo. Kita lihat mana yang bener mana yang enggak betul. Kita lihat jangan sampai dibawa oleh politikus-politikus hanya untuk kepentingan sesaat, memudarkan kesatuan persatuan dan persaudaraan kita,” pesannya.

Jokowi mengaku terlalu kesal sehingga belakangan ini kerap menyebut politikus sontoloyo. “Kemarin saya kelepasan, saya sampaikan politikus sontoloyo. Ya itu, jengkel saya. Saya enggak pernah pakai kata-kata seperti itu. Karena sudah jengkel, ya keluar. Saya biasanya ngerem tetapi sudah jengkel ya bagaimana,” jelas Jokowi.

Kekesalan Jokowi lantaran politikus acap kali menggunakan cara-cara tidak beretika dan tak beradab saat berkontestasi di pesta demokrasi. Cara tidak beradab yang dimaksud adalah menggunakan isu SARA, mengadu domba, fitnah, dan menebar kebencian.

Padahal, kata Jokowi, pendiri bangsa Indonesia tidak pernah mengajarkan tentang adu domba dan saling memecah belah rakyat dalam merebut kekuasaan.

“Dimulai dari urusan politik yang sebetulnya setiap lima tahun pasti ada. Dipakailah cara cara politik adu domba, cara cara politik memfitnah, cara cara politik memecah belah hanya untuk merebut sebuah kursi, sebuah kekuasaan,” kata Jokowi.

Rencana alokasi Dana Kelurahan oleh pemerintah memang memantik polemik. Cawapres nomor urut 02, Sandiaga Uno menduga ada muatan politis di balik alokasi Dana Kelurahan yang mencapai Rp 3 triliun itu. “Kalau misalnya (cair) di tahun politik, 2019 ini pasti masyarakat bisa menilai sendiri kok apakah ada udang di balik batu,” kata Sandi di Bulungan, Jakarta Selatan, Minggu (21/10).

3. Politikus Genderuwo

Capres no urut 1 Jokowi saat mengucapkan kata politisi Genderuwo

Presiden Jokowi menyebut ada politikus genderuwo di tanah air. Menurut Jokowi politikus genderuwo adalah politikus yang menggunakan propaganda tak sehat untuk menakut-nakuti masyarakat.

“Politikus genderuwo itu cara propaganda politik, menakut-nakuti rakyat, menimbulkan pikiran dan ujungnya ketidakpastian,” kata Jokowi usai Peresmian Ruas Tol Pejagan-Pemalang seksi III dan IV di Jawa Tengah, Jumat (9/11).

Wakil Ketua Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo ( Jokowi) dan KH Ma’ruf Amin, Arsul Sani menilai Presiden Jokowi tengah menyindir kubu pasangan Prabowo-Sandiaga saat melontarkan istilah ‘politik genderuwo’. Sebab, kata dia, gaya kampanye tim Prabowo-Sandi terkesan sering menakut-nakuti.

Sebenarnya Pak Jokowi sedang menggelitik yang di sebelah, agar kualitas konten kampanyenya ditingkatkan, dengan memberikan alternatif kebijakan, ide-ide baru, bukan hanya mencela, teriak bohong atau pencitraan,” kata Arsul.

Menurutnya, tim Prabowo-Sandi kerap melontarkan pidato yang kontroversial. Mulai dari Indonesia akan hancur, punah dan dikuasai asing. “Coba gimana enggak bikin takut kalau yang disuarakan Indonesia akan hancur, punah, dikuasai asing, dan lain-lain dan itu dilempar tanpa berbasis data-data kuantitatif,” ungkapnya.

Sekjen Partai Persatuan Pembangunan (PPP) ini juga menegaskan, selama ini Jokowi tidak pernah menggunakan konten kampanye atau pidato yang menakutkan. “Ya Pak Jokowi menyampaikan seperti itu karena ada yang gaya kampanyenya ada yg nakut-nakuti, genderuwo kan makhluk halus yang kalau muncul memang nakut-nakuti manusia yang ketemu dengannya,” ucapnya.

4.Tampang Boyolali

Capres no urut 2 dalam memen kunjungan dan menyampaikan kata Tampang Boyolali

Pidato calon presiden Prabowo Subianto di Boyolali, Jawa Tengah, Selasa (30/10) menuai kontroversi. Dalam pidatonya, capres nomor urut 02 ini menyebutkan warga Boyolali tidak mampu masuk ke hotel-hotel mewah dan megah di Jakarta.

“Saya keliling Jakarta saya lihat gedung-gedung mewah, gedung-gedung menjulang tinggi, hotel-hotel mewah, sebut saja hotel mana di dunia yang paling mahal ada di Jakarta. Ada Ritz-Carlton, ada apa itu, Waldoft Astoria. Namanya saja kalian enggak bisa sebut. Dan macam-macam itu semua, tapi saya yakin kalian tidak pernah masuk hotel-hotel tersebut, betul? (betul, sahut para hadirin dalam acara tersebut),” kata Prabowo “Kalian kalau masuk mungkin kalian diusir, tampang kalian tampang tidak orang kaya, tampang kalian, tampang Boyolali, ini, betul,” sambung Prabowo.

Prabowo pun dilaporkan ke polisi dan Bawaslu terkait ucapannya itu yang viral dibahas masyarakat. Juru Bicara pasangan Prabowo-Sandi, Dahnil Anzar Simanjuntak mengatakan, apa yang dilakukan calon presiden Prabowo Subianto, di Boyolali, adalah bentuk candaan ke pendukungnya. Dan itu merupakan hal yang biasa. Dia juga menjelaskan, apa yang disampaikan Prabowo sebagai penggambaran adanya kesenjangan ekonomi, khususnya dalam pembangunan.

“Pak Prabowo menggunakan istilah candaan wajah Boyolali itu biasa saja, kenapa? Karena beliau berhadapan dengan masyarakat Boyolali yang pada saat itu, yang berkumpul itu pendukung beliau. Jadi Bercanda. Kita kumpul-kumpul juga suka bercanda dengan ringan seperti itu,” ucap Dahnil.

Prabowo Subianto merasa bingung terhadap pihak-pihak yang mempermasalahkan beberapa pidatonya. Termasuk materi pidato yang sifatnya guyonan.

“Saya baru keliling kabupaten di Jawa Timur. Mungkin saudara monitor. Saya bingung kalau bercanda dipersoalkan, saya ngomong begini, begitu dipersoalkan,” kata Prabowo. “Jadi sekarang joke harus dibatasi. Ini dibatasi jadi saya bingung saya mau bicara apa,” imbuhnya.

5. Tempe Setipis ATM

Cawapres no urut 2 Sandiaga dalam sebuah kesempatan memperlihatkan tempe

Cawapres Sandiaga Salahuddin Uno menuturkan, dirinya dan bakal capres Prabowo Subianto belakangan ini banyak turun ke berbagai daerah. Dia mengaku mendapatkan banyak keluhan dari masyarakat terkait kondisi perekonomian. Terlebih saat nilai rupiah yang sempat anjlok dan menembus angka Rp 15.000 per dolar Amerika Serikat.

Menurutnya, kondisi ini berpengaruh banyak terhadap pengusaha. Salah satunya pengusaha tahu dan tempe. Sandi menyebut, ukuran tempe yang kini dijual di pasar menjadi semakin kecil dan tipis.

“Tempe sekarang sudah dikecilkan. Dan tipisnya sama kayak kartu ATM. Tahu Ibu Yuli di Duren Sawit, jualan tahu dikecilin karena tidak bisa menaikkan harga karena tidak akan laku karena daya belinya,” kata Sandiaga saat konferensi pers di kediaman Prabowo Subianto di Jalan Kertanegara Nomor IV, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Jumat (7/9) malam.

Kondisi seperti ini membuat Sandiaga dan parpol koalisi menjadi khawatir. Itulah alasan petinggi parpol berkumpul di Kertanegara dan menghasilkan pernyataan sikap yang berisi tujuh poin. Dia mengklaim, poin yang tertuang dalam pernyataan itu sebagai keinginan masyarakat. “Hari ini kita kumpul untuk memberikan pernyataan apa yang diinginkan masyarakat. Dan koalisi Prabowo-Sandi ingin bersatu dengan rakyat dalam bahu membahu memperkuat ekonomi kita. Karena saya yakin apa yang di benak rakyat sekarang masalah ekonomi,” jelasnya. (BB-MRC)