BERITABETA.COM, Ambon – Sebuah karya unik hasil ciptaan seorang dosen sekaligus seniman asal Maluku berupa alat musik ukulele dan biola di-launching dan menjadi karya pertama di dunia. Karya ini diluncurkan sebagai bentuk kecintaan anak Maluku kepada seni musik yang tidak pernah pupus  di tengah kondisi pandami virus corona yang menghantui masyarakat.

Karya berupa dua alat musik petik dan gesek yang terbuat daru bambu (bamboo) ini, diciptakan oleh Dr. Branckly Egbert Picanussa seorang dosen seni musik di Institut Agama Kristen Negeri (IAKN) Ambon. Branckly yang juga Dekan Fakultas Seni Keagamaan Kristen IAKN Ambon itu  membuat kedua jenis alat musik yang diberinama Ukulele Bamboo 3 dan Biola Mamboo.

Seperti namanya, kedua jenis alat musik ini terbuat dari material bahan baku  bambu yang banyak dijumpai di daerah ini. Disebut Ukulele Bamboo 3, karena bentuknya hanya terbuat dari 3 bagian batang bambu yang digabungkan. Begitu juga dengan Biola Bamboo.

Kegiatan launching kedua alat musik tersebut juga menghadirkan pimpinan ‘Amboina Ukulele Kids Community’ Nicho Tulalessy dan berlangsung di kediaman Dr Brancky Egbert Picanusa di kawasan Desa Waiyame, Kecamatan Teluk Ambon, Kota Ambon, Rabu (27/5/2020).

Kepada beritabeta.com di Ambon, Nicho Tulalessy yang selama ini dikenal  sebagai seniman lokal yang getol memperkenalkan alat musik ukulele melalui ‘Amboina Ukulele Kids Community’ dipimpinnya itu, mengaku terkejut dengan apa yang sudah dihasilkan oleh Dr. Branckly Egbert Picanussa.

“Beta (saya) merasa ini sebuah karya yang luas biasa. Beta pertama melihat bung (kakak) Branckly memperkenalkan beberapa jenis alat musik hasil karyanya melalui akun pribadinya di Facebook, dan yang terakhir adalah berupa ukulele yang terbuat dari bambu dan biola,” tutur Nicho.

Setelah melihat beberapa alat musik itu, akui Nicho, ia kemudian dikirimin beberapa potongan video yang berisi hasil karya Branckly yang dimainkan dengan suara yang tidak kalah merdu.

“Beta paling senang dan ini mimpin yang selama ini beta inginkan, ternyata Tuhan sudah jawab kedepan anak-anak Ambon sudah bisa main ukulele yang dibuat langsung di Ambon,” ungkapnya.

Dengan melihat langsung hasil karya dua jenis alat musik ini, Nicho kemudian menyatakan niat untuk me-launching kedua alat musik ini, sebagai bentuk kecintaan anak Maluku kepada dunia seni musik. Selain itu, Nicho menilai kedepan pasca wabah Covid-19 berlalu, hasil karya ini bisa dijadikan sebagai salah satu ikon dalam memperkenalkan seni dan budaya Maluku.

“Niat beta itu sangat didukung, dan bung Branckly meminta agar alat musik ini kedepan bisa dimainkan anak-anak yang tergabung dalam ‘Amboina Ukulele Kids Community’ dan tentu pemerintah daerah mampu melihat karya ini sebagai aset bagi daerah ini,” bebernya.

Terkait ukulele bamboo 3 ini, Nicho menilai, merupakan sebuah karya yang baru pertama ada di dunia. Pasalnya, ada ukulele serupa yang dibuat di Brasil dengan bahan dari bambu, nama bentuknya hanya menggunakan 1 buah mambu. Sementara yang dibuat Dr. Branckly merupakan yang pertama dengan menggabungkan tiga batang bambu.

Dalam launching ini, Nicho juga membawa lima anak asuhnya sambil mencoba memainkan dua jenis alat musik unik itu. “Teryata sudah banyak orang juga yang memesan ukulele bamboo 3 ini. Selain itu, Dr. Branckly juga membuatnya dari bahan gaba-gaba (dahan pohon sagu),” terangnya.

Lalu siapa sosok Brancky Egbert Picanusa?

Brancky Egbert Picanusa merupakan seorang seniman sekaligus akademisi lulusan Doctor Theologiae dari Sekolah Tinggi Teologi J (STT) akarta. Pria kelahiran Ambon, 17 Maret 1973 ini, merupakan seniman tulen yang memilih berkiprah di dunia akademisi, khususnya fokus pada Seni Keagamaan Kristen.

Ia merupakan lulusan sarjana Sains-Filsafat Agama dari Fakultas Filsafat Universitas Kristen Indonesia Maluku, tahun  1998). Dan melanjutkan pendidikan Master of Theology in Liturgy and Music dari Asian Institute for Liturgy and Music Philippines – 2004.

Selain fokus sebagai akademisi, suami dari Pdt. Jacoba T. R. Pattiwael/Picanussa ini juga fokus ke sejumlah kegiatan musik di Maluku.  Ayah dari Adventio Ch. Picanussa ini pernah terlibat dalam beberapa aktivitas musikal yang telah dilakukan. Misalnya, Composer,  Choral Clinician, Condcutor, dan Fasilitator untuk Bidang Musik, Musik Gereja, dan Liturgi.

Kemudian, menjadi peserta Asian Pasific Conference in Liturgy and Music, Philippines 2002 dan Asisten Pelatih Paduan Suara Provinsi Maluku pada Pesparawi Nasional di Medan tahun 2006 serta sejumlah kegiatan musik di tanah air.

Dengan sejumlah pengetahuan dan talenta seni yang dimiliki, kini Branckly Egbert Picanusa berhasil membuat gerbarakan baru dengan meluncurkan sejumlah hasil karyanya berupa alat-alat musik yang unik dan terbuat dari bahan-bahan lokal yang gampang di temui di Maluku.

“Baliau punya visi tentang musik yang cukup besar untuk daerah ini, makanya saya sangat merespons dan salut dengan apa yang baliau hasilkan saat ini,” terang Nicho menjelaskan tentang sosok Branckly (BB-DIO)

SIMAK JUGA VIDEO DI BAWAH INI :