Catatan : Mary Toekan Vermeer

BERITABETA.COM - Maret 1947, sebuah misi diplomatik tiba di New Delhi, memperkenalkan bayi mungil bernama Republik Indonesia, dalam Inter - Asian Relation Conference di New Delhi, India.

Setelah Indonesia nyatakan kemerdekaannya tahun 1945, ternyata masih banyak pekerjaan belum kunjung selesai. Maka dibentuklah sebuah misi diplomatik  untuk menyampaikan kepada dunia tentang kemerdekaan negeri baru di garis khatulistiwa.

Keempat tokoh yang diamanahi dalam sejarah misi diplomatik ini menjadi penentu pengakuan dunia pada negeri tercinta. Adalah The Grand Old Man Haji Agus Salim yang sedang menjabat sebagai Menteri Muda Luar Negeri, didaulat sebagai ketua delegasi.

Ia  memiliki kecerdasan dalam berdiplomasi serta memiliki kemampuan luar biasa, menguasai sembilan bahasa mulai dari bahasa Arab, Belanda, Inggris, Jerman, Prancis, Latin, China, Jepang, hingga Turki. 

Tiga anggota delegasi lainnya adalah  AR. Baswedan (kakek dari Gubernur DKI sekarang Anies Baswedan), Mr. Nazir Pamoentjak dan Prof.DR. HM Rasjidi (saat itu beliau blm bergelar Prof. DR ).

Surat - surat serta naskah proklamasi yang dibawa mereka, sengaja dialihbahasakan ke dalam bahasa Arab. HM Rasjidi mendapat tugas ini, menerjemahkan surat dan naskah proklamasi, untuk lawatan mereka ke sejumlah negara Timur Tengah, dalam mencari dukungan dan pengakuan kedaulatan Indonesia.

Mesir Menjadi Tujuan Selanjutnya

Tak gampang perjalanan menuju negeri piramida ini. Mereka harus menembus beberapa blokade Belanda di sepanjang perjalanan. Indonesia dituduh negeri para ekstrimis dan fasis Jepang.

Bung Karno dan Bung Hatta akan diadili sebagai penjahat perang oleh Belanda dan konco - konconya. Berita ini sengaja ditebarkan untuk menghambat terbitnya negeri ‘mutu manikam’ dari ufuk timur bumi.

Negeri Kincir ini tetap berpegang pada Perjanjian Linggarjati, dimana mereka  mengakui kedaulatan Republik Indonesia hanya sebatas Jawa, Sumatra, dan Madura.

April 1947,  dibawah cerahnya langit Kairo, delegasi ini akhirnya tiba di gerbang imigrasi Mesir. Wajah - wajah lelah tergurat jelas, namun tampaknya perjuangan belum juga berakhir.

Mereka tertahan di pintu bandara Kairo tersebab paspornya hanya berupa secarik kertas yang disodorkan dalam kondisi lusuh dengan cap Republik Indonesia.

Misi Terancam Gagal

Salah satu petugas imigrasi, dengan pandangan menyelidik, bertanya dengan sedikit ketus, apa fungsi secarik kertas lusuh itu. Sayangnya, rentetan jawaban belum juga membuat lelaki itu merasa puas.

Secara bergantian Haji Agus Salim dan AR Baswedan menjawab interogasi itu dalam  bahasa Arab dengan fasih, bahasa yang juga menjadi bahasa nasional Mesir menggantikan bahasa koptik setelah pasukan Islam dibawah komando Amr bin Ash membebaskan negeri para Nabi ini dari jajahan Romawi.

"Are you Moslem ? ," mendadak meluncur pertanyaan keluar dari mulut petugas itu.

"Yes",  sahut mereka serempak.

"Apa anda tahu, siapa yang memenuhi Makkah di musim Haji ? " lanjut Haji Agus Salim mencairkan suasana.

Terkekeh. Wajah lelaki ini berubah drastis. Yang tadinya dingin bercampur ketus kini cerah dengan sebentuk senyum yang memperlihatkan deretan gigi - giginya.

"Well, then, ahlan wa sahlan. Welcome to Egypt, brothers" sahut lelaki berkumis tebal itu sambil melebarkan tangan memeluk mereka satu persatu.

Rupanya identitas muslim mereka lebih mujarab dari jawaban sebagai misi diplomatik dari negara yang baru merdeka di Asia Tenggara.

Pintu pembuka pengakuan kedaulatan negeri para syuhada dengan  jihad masyarakatnya selama ratusan tahun dari cengkeraman penjajah Belanda kini terbuka lebar dihadapan mereka.

Mesir menjadi negara pertama yang mengakui kedaulatan Republik Indonesia. Kisah menarik ini ditulis oleh AR Baswedan dalam bukunya memperingati 100 tahun Haji Agus Salim.

Delegasi ini diutus oleh presiden Soekarno untuk kunjungan balasan Konsul Jenderal Mesir di Bombay ( Mumbai ), Muhammad Abdul Mun'im di Jogjakarta Maret 1947, sekaligus menyerahkan surat penugasannya  sebagai Duta Besar Mesir untuk Indonesia ( waktu itu Jogja menjadi ibu kota negara ).

Wasiat penting ikut dibawa utusan Mesir ini. Sebuah pesan dari hasil keputusan sidang Dewan Liga Arab, 18 November 1946, yang memutuskan seluruh anggota Liga Arab mengakui kedaulatan sebuah negeri dengan mayoritas muslim, berdasarkan ikatan keagamaan, persaudaraan serta kekeluargaan.

Kairo, Juni 1947. Tepat jam sembilan pagi, delegasi Indonesia, dijadwalkan bertemu dengan Perdana Menteri yang juga menjabat sebagai Menteri Luar Negeri Mesir Mahmoud Fahmi El  Nokrashy Pasha.

Namun kembali pertemuan ini diintimidasi dengan kedatangan terlebih dahulu, Duta Besar Belanda, menyentil hubungan ekonomi Mesir -  Belanda dan mengancam akan menarik dukungan terhadap Mesir tentang Palestina di  forum PBB.

Mesir dalam tekanan luar biasa selama pembicaraan 30 menit itu. Tapi lagi - lagi, untaian cinta hadir melindungi sesama Muslim. Jawaban yang diberikan El Nokrashy sungguh diluar dugaan.

“Menyesal sekali kami harus menolak protes Tuan, sebab Mesir selaku negara berdaulat, dan sebagai negara yang berdasarkan Islam, tak bisa tidak mendukung perjuangan bangsa Indonesia yang beragama Islam. Ini adalah tradisi bangsa Mesir dan tidak dapat diabaikan,"ungkap El Nokrashy.

10 Juni 1947, Mesir resmi menandatangani surat pengakuan terhadap kedaulatan Republik Indonesia oleh Perdana Menteri sekaligus  Menteri Luar Negeri Mesir Mahmoud Fahmi El Nokrashy Pasha dan Menteri Muda Luar Negeri Indonesia Haji Agus Salim, disaksikan Mufti Palestina Syaikh Muhammad Amin Al Husaini, Menteri Luar Negeri Kerajaan Arab Saudi, Pangeran Faizal.

Haji Agus Salim, dalam misi Pengakuan Kemerdekaan dan Kedaulatan Republik Indonesia di Mesir (Foto : islamtoday.id)

Kali ini giliran AR. Baswedan dipercaya mampu melarikan surat berharga ini ke Indonesia.

"Baswedan, bagi saya tidaklah penting apakah Saudara tiba di tanah air atau tidak, pastikan dokumen ini sampai ke tangan Presiden, " pesan Haji Agus Salim.

Bertarung nyawa Ia harus melewati beberapa kali pemeriksaan di pintu - pintu penjagaan. Bahrain, Karachi, Kalkuta, Rangon hingga Singapura. Jimat penentu bebasnya negeri tercinta, yang diselipkan dalam kaus kaki di bawah telapak kaki dalam sepatu yang ia kenakan,  selamat dari terkaman para penyamun.

Radio "Voice of Free Indonesia" menyiarkan pertama kali dari Jogja setelah lolosnya surat pengakuan ini. Dukungan kemudian datang dari negeri - negeri Muslim.

Suriah, Lebanon, Yaman, Arab Saudi ikut mengusung kedaulatan Indonesia atas kehebatan diplomatik  Haji Agus Salim di Timur Tengah.

3 Tahun Sebelum Itu

6 September 1944, Palestina mengawali jejak pengakuan kemerdekaan Indonesia secara de facto bahkan sebelum pernyataan proklamasi Republik Indonesia diproklamirkan.

Kisah ini diabadikan dalam buku Diplomasi Revolusi  Indonesia di Luar Negeri karya Muhammad Zein Hassan.

Bersama seorang saudagar kaya Palestina bernama Muhammad Ali Taher, Mufti Besar Palestina, Syaikh Muhammad Amin Al - Husaini, menghembuskan kemerdekaan negeri yang berlumuran darah para ulama ini, ke seluruh negeri - negeri Muslim, melalui radio dan media - media cetak berbahasa Arab.

Meski negeri mereka sendiri dalam intaian para pemangsa, tak padam cinta mereka kepada saudara - saudaranya yang kini sedang terengah - engah  berjuang mencari pengakuan.

Dua kali 24 jam tanpa henti, mereka lesatkan senjata kata - kata lewat media - media cetak. Ashoura, Al - Shabab, Al - Minhaj dan Al Alam Al - Masri adalah media milik Ali Taher. Tak cukup itu. Ali Taher meminta harian Al - Ahram yang terkenal sangat berhati - hati ikut memukul genderang menyuarakan kemerdekaan Indonesia.

Ma sha Allah, bagaimana Allah pertemukan dua orang berhati malaikat ini, menggedor dari  pintu ke pintu negara - negara berdaulat di kawasan Timur Tengah dalam Liga Arab.

Ketika serangan Militer Belanda II atau Operasi Gagak 19 Desember 1948 di Jogjakarta,  Ali mendengar  penangkapan Soekarno, Mohammad Hatta, Sjahrir dan sebagian tokoh lainnya, lalu ia menarik saya ke Bank Arabia, kisah Zein dalam bukunya.

Ia menguras semua uang yang tersimpan di Bank itu dan memberikan kepada saya sebagai Ketua Panitia Pusat Perkumpulan Kemerdekaan Indonesia, tanpa meminta tanda bukti.

"Terimalah semua kekayaan saya ini, untuk memenangkan perjuangan Indonesia,"  bisik Ali dengan tatapan dalam penuh keikhlasan.

Benang merah Indonesia Palestina dalam perjuangan ini sangat kental terlihat. Saling support sebagai negara Muslim. Inilah jawaban  mengapa Indonesia selalu di garis terdepan berikhtiar untuk Palestina.

Bagaimana Indonesia tampil di forum - forum internasional mendukung Palestina menjadi anggota penuh Perserikatan Bangsa - Bangsa dalam Organisasi Kerja Sama Islam (OKI).

Dari negeri Kinanah sepucuk surat mengawali jejak kemerdekaan. Namun energi cinta Muslimlah mendominasi torehkan dengan tinta emas kisah bebasnya bangsa ini.

Kini Palestina sedang terhuyung - huyung menahan sakitnya. Luka mereka masih menganga. Tak pantas rasanya membiarkan mereka sendiri menjerit memperjuangkan kemerdekaan negerinya yang dicuri oleh tamu semalam.

Kemanakah wajah Islam akan diletakkan saat bertemu mereka yang mengorbankan harta saat negeri tercinta diberondong kolaborasi bajak laut dihadapan Sang Khaliq?

Sejarah negeriku dicatat dengan darah dan air mata para syuhada. Diuntai dengan  cinta kaum Muslimin.Takbir menggema di langit nusantara, menutup pintu penjajahan di bumi pertiwi.

Jika ada yang menudingkan telunjuk ke arah kaum muslimin, sungguh mereka tak punya malu.  Jika ada yang mau menghilangkan wangi Islam dalam tubuh negeri ini, sungguh mereka tak tahu diri.

Sepatutnya kita bersatu sebagai umat Rasulullah SAW. Tanggalkan semua perbedaan satukan dalam energi cinta kaum Muslimin sebagai kado terindah kita untuk Tanah Air tercinta (*)

Geldrop, 11 Muharram 1443 H.

Penulis adalah pengagum sejarah Islam menetap di Belanda