Dari Ya'qub inilah asal mula Bani Israil. Artinya menurut para ulama ini, secara sengaja Allah sedang memberitahu bahwa usia Ishaq akan mencapai dewasa hingga menghadirkan keturunan bernama Ya’qub.

Begitupun dengan hadits yang mengatakan bahwa Ibrahim AS membawa keluar anaknya dari rumahnya untuk dijadikan qurban jauh dari ibunya, lalu  di perjalanan bertemu dengan syaithan yang menggodanya agar tidak melaksakan maksudnya.

Ibnu Abbas RA meriwayatkan,  Lalu Ibrahim melempar syaithan yang berusaha menggodanya dari berbagai tempat.

Kejadian ini kemudian berlanjut secara simbolis dalam melempar jumrah saat kaum Muslimin memenuhi rukun Islam yang ke lima. Peristiwa itu terjadi di Makkah bukan di Syam. 

Sementara pendapat lain yang mengatakan Ishaq, di antaranya didukung oleh beberapa sahabat sekaliber Umar bin Khottab, Ka’ab al-Akhbar, Jabir, dan Al-‘Abbas radhiyallâhu ‘anhum.

Dari kalangan Tabi’in seperti Qatadah, Malik bin Anas, ‘Ikrimah, Masruq, Muqatil, Az-Zuhri, dan As-Suddi. ( Sumber : Wahbah Az-Zuhaili, At-Tafsîrul Munîr, juz XXII, halalaman 126).  

Para alim ulama ini berpendapat, dalam surah As - Shaffat ayat 99 -100, Allah abadikan  kisah Nabi Ibrahim hijrah ke negeri Syam. Saat itu Ibrahim berdoa agar dikaruniai seorang anak.

Analisa ini membuat mereka berkesimpulan  bahwa Ishaqlah anak yang disembelih itu.

Mengapa? Sebab Ishaq lahir dalam rumah tangga Ibrahim dan ibunda Sarah yang berasal dari negeri Syam. Kemudian dipertegas pada ayat berikutnya :

وَبَشَّرۡنٰهُ بِاِسۡحٰقَ نَبِيًّا مِّنَ الصّٰلِحِيۡنَ‏

Dan Kami beri dia kabar gembira dengan (kelahiran) Ishak seorang nabi yang termasuk orang-orang yang shalih. ( QS : As - Saffat 37 : 112 )

Kabar gembira ini, benih dari kesabarannya melewati ujian nyawa di atas altar qurban. Selanjutnya, pendapat para ulami ini merujuk pada potongan teks surat Nabi Ya'qub pada putranya Yusuf :

 مِنْ يَعْقُوبَ إِسْرَائِيلَ نَبِيِّ اللهِ بْنِ إِسْحَاقَ ذَبِيحِ اللهِ بْنِ إِبْرَاهِيمَ خَلِيلِ اللهِ  

“ dari Ya’qub ( Israil ) Nabi Allah bin Ishaq Dzabihillâh bin Ibrahim Khalîlillâh”  

Dalam surat tersebut tertulis "Ishaq Dzabihillâh,”  yang bermakna "Ishak yang disembelih".