Novita Irma Diana Magrib, ST. MT. IPM
Novita Irma Diana Magrib, ST. MT. IPM

Oleh : Novita Irma Diana Magrib, ST. MT. IPM (Akademisi Universitas Kristen Indonesia Maluku – UKIM Ambon)

SEJARAHpanjang pendidikan tinggi di Indonesia dimulai pada awal abad ke-20 ketika pemerintah kolonial Belanda mendirikan Technische Hogeschool (THS) di Bandung pada tahun 1920. Namun demikian cikal bakal pendidikan tinggi di Indonesia sudah disemai oleh pemerintah kolonial pada pertengahan abad ke-19 dengan didirikannya School tot Opleiding voor Indische Arsten (STOVIA), sebuah lembaga pendidikan dokter Jawa di Batavia.

Lembaga pendidikan tersebut untuk sementara mengambil alih peran yang mestinya dimainkan oleh lembaga pendidikan tinggi, mengingat STOVIA ketika pertama kali didirikan tidak lebih dari sekolah menengah untuk mendidik medisch vaccinateur (juru cacar) dengan masa pendidikan hanya dua tahun, STOVIA meningkat menjadi lembaga pendidikan yang setara dengan pendidikan tinggi baru pada tahun 1902 dengan masa studi tujuh tahun dan lulusannya diberi gelar Inlandsche Arts (Dokter Bumiputera).

Pada periode berikutnya didirikan pula Sekolah Hukum untuk golongan Bumiputra (Opleidingschool van Inlandsche Rechtkundigen) pada tahun 1909 di kota yang sama, dan sekolah dokter di Surabaya pada tahun 1913 yang diberi nama Nederlandsch Indische Arsten School (NIAS) dengan masa studi tujuh tahun.

Dengan berdirinya STOVIA dan NIAS maka di Indonesia telah ada dua lembaga pendidikan tinggi bidang kedokteran yang dikelola oleh pemerintah kolonial. Menjadi menarik mengapa cikal-bakal perguruan tinggi di Indonesia adalah lembaga pendidikan kedokteran bukan lembaga pendidikan teknik apalagi teknik industri, padahal presiden kita saat itu, Soekarno adalah seorang insinyur

Secara spesifik, kurikulum teknik Industri (TI) berfokus kepada perancangan, peningkatan dan instalasi dari sistem terintegrasi yang terdiri atas manusia, material, peralatan dan energi untuk menspesifikasikan, memprediksi dan mengevaluasi hasil yang diperoleh dari sebuah sistem kerja yang terintegrasi.

Oleh karena itu, dibutuhkan pengetahuan dan keahlian dalam bidang matematika, fisika dan ilmu-ilmu sosial serta prinsip dan metodologi teknik/rekayasa. Selanjutnya jika diklasifikasikan maka  Mata kuliah yang diajarkan di fakultas/jurusan Teknik Industri terdiri dari mata kuliah dasar, mata kuliah wajib dan mata kuliah pilihan dan terdapat pula mata kuliah terapan, namun  yang disesalkan, tidak terdapat pada semua institusi perguruan tinggi di Indonesia (miris). 

Mata kuliah ini kemudian berkembang dan bervariasi sesuai jurusan masing-masing, misalnya bidang Teknik Elektro, yang mempelajari pengenalan teknologi informasi, sistem Basis data serta analisis & perancangan sistem informasi dari bidang teknik informatika, mempelajari material teknik dari bidang teknik sipil, juga analisis biaya dan ekonomi teknik yang merupakan bidang ekonomi. Seorang sarjana teknik industri dituntut tidak hanya menguasai bidang teknik saja, tapi juga segi manajemen dan pemasaran.

Di pundak sarjana teknik industri-lah, operasional sebuah pabrik berada. Di dalam sebuah pabrik banyak komponen yang terlibat, mulai dari mengatur SDM (karyawan), bahan baku, kebutuhan daya listrik, pengolahan kimia, juga pengelolaan bangunan, hingga menentukan harga jual produk agar bisa bersaing di pasaran. Dengan tanggung jawab seperti itu, tidak heran jika jurusan Teknik Industri akan mempelajari mata kuliah yang beragam.

Jurusan Teknik Industri mempelajari materi dasar hampir semua bidang teknik. Tidak jarang di kampus dipelajari cara mengelas bersama teman-teman dari teknik elektro, ikut ke laboratorium praktek teknik kimia, ikut belajar pemrograman teknik informatika, hingga belajar teori pemasaran di Fakultas Ekonomi. Tapi bukan berarti mata kuliahnya jadi sangat banyak, karena yang dipelajari hanya dasar saja.

Diharapkan dengan menguasai banyak dasar ilmu teknik, seorang sarjana Teknik Industri mampu merumuskan solusi supaya kapasitas produksi pabrik bisa berjalan dengan baik. Jika nantinya ada masalah pada kelistrikan, sarjana Teknik Industri harus bisa berkomunikasi dengan karyawan PLN mengenai istilah-istilah listrik. Jika nanti terdapat kendala di software, sarjana Teknik Industri bisa menganalisis bagian yang salah dan mencari programmer yang memang ahli di bidang tersebut. Sehingga diharapkan operasional pabrik bisa berjalan dengan baik.

Semua mata kuliah ini dirancang untuk menghasilkan seorang sarjana Teknik Industri yang komplit. Kuliah di jurusan Teknik Industri akan belajar banyak hal karena dalam sebuah industri,  perlu dibuat sebuah sistem yang  akan berproduksi untuk menghasilkan output tertentu. jadi mindset TI adalah berpikir generalis dan kesisteman,  sehingga belajar juga statistik, networking,akuntansi, ekonomi, psikologi, programming, ERP, management, marketing, organisasi, dan lain-lain yang mirip seperti fungsi2 yang ada di sebuah perusahaan.

Sekalipun kompleksitas dan kompetensi mata kuliah di perguruan tinggi begitu terlihat, namun kesenjangan antara dunia pendidikan dan industri masih terjadi. Oleh karena itu perguruan tinggi dan industri harus terus didorong untuk meningkatkan komunikasi, agar apa yang diajarkan relevan dengan kebutuhan dunia kerja.

Menurut Direktur Metro TV Suryopratomo, “Dunia pendidikan hingga saat ini belum sejalan dengan kebutuhan industri, lulusan perguruan tinggi masih membutuhkan penambahan wawasan dan keterampilan,” (pernyataan beliau usai penandatanganan Nota Kesepahaman antara Media Group dengan Universitas Esa Unggul, di Gedung Metro TV, Jakarta, Rabu, 21 November 2018). Inilah problema utama link and match (keterkaitan dan kesepadanan) yang dialami dunia perguruan tinggi dan dunia kerja di Indonesia.

Tentu diperlukan adanya terobosan lainnya yang diharapkan dapat bersinergi dengan tujuan link and match ini dengan memberikan nuansa baru dalam model pembelajaran yang lebih menekankan kepada learn how to learn experience  bagi para peserta didik. Dengan metode ini diharapkan akan menjadi metode pembelajaran yang mampu mengembangkan semangat dan kemampuan belajar lebih lanjut yang ditunjang dengan kurikulum yang searah dan sejalan dengan berbagai kebutuhan dunia kerja.

Revolusi perubahan pendidikan seperti inilah yang akan semakin berakselerasi memberi dorongan pada lembaga pendidikan yang ada untuk terus melakukan self reform jika ingin tetap mempertahankan eksistensinya di jaman yang berlari seperti sekarang dan menjadikan link and match sebagai sebuah imperative yang dapat diterapkan diberbagai jenjang pendidikan mulai dari tingkat dasar sampai pendidikan tinggi.

Konsep link and match pada dunia pendidikan ini memang bukan merupakan hal yang baru, pada awal abad 20 dikenal adanya teori atau aliran belajar behavioral yang pada hakekatnya adalah merupakan pengejewantahan dari konsep link and match yang kemudian dikenal dengan konsep learning by doing dimana proses belajar berjalan dengan melakukan sesuatu yang dapat memberikan pengalaman yang nyata dan aktual (real experience) dalam kehidupan yang bertujuan untuk mendapatkan kemampuan     mentransfer apa yang sudah didapat (transfer of learning and transfer of principle) dimana seseorang memiliki kemampuan untuk mengaplikasikan ilmu, pengetahuan dan keterampilannya pada dunia nyata yang berbeda kondisinya manakala dia dalam proses belajar.

Semua ini terjadi karena  arus kuat gelombang globalisasi menuntut adanya peningkatan kualitas yang berkelanjutan bagi manusia (pembelajar) dimana ilmu pengetahuan, teknologi informasi dan telekomunikasi berjalan dan berkembang dengan pesatnya dan disisi lain lembaga pendidikan tidak sekedar mampu memberi materi learn how to learn, tetapi juga learn ow to experience dan mendorong peserta didiknya mengembangkan kemampuan belajarnya untuk berfikir jauh kedepan dan menyiapkan diri menjadi tonggak kuat untuk menghadapi tantangan berat dimasa yang akan datang.

Dalam implementasinya link and match masih menghadapi kendala, dunia pendidikan (tinggi) mengalami kesulitan melakukan standarisasi outcome perguruan tinggi (masih terdapat kesenjangan yang lebar perbedaan kualitas antar para lulusan perguruan tinggi dalam bidang yang sama, meskipun mengalami pendidikan dan kurikulum yang sama), lembaga pendidikan masih menghadapi kesulitan dalam memproyeksikan atau mempredeksi akan tuntutan lapangan kerja yang riil.

Dominasi era global saat ini telah membuat para penyelenggara pendidikan terjebak dalam perasaan ketidakpastian dengan sistem pendidikan saat ini, sehingga jangan heran jika sampai saat ini masih banyak lembaga dan perguruan tinggi yang tidak lepas dari dimensi profit oriented hingga mengabaikan kualitas lulusannya. Praktek-praktek komersialisasi pendidikan seperti inilah yang harus diberantas pemerintahan yang baru kedepan, bila perlu dengan membentuk tim satgas mafia pendidikan atau minimal lewat regulasi yang dapat meminimalisir bahkan memberangus praktek tidak terpuji ini.

Bagaimnanapun kita tidak boleh tertinggal dari Negara-negara tetangga yang yang sangat serius dan full concern dalam menangani masalah pendidikan ini. Biaya besar mereka keluarkan karena mereka sadari betul tingkat kemajuan yang dicapai semua bersandar pada  ilmu pengetahuan dan teknologi kekinian dengan model kurikulum yang berjenjang dari pendidikan paling dasar sampai tertinggi.

Negara selalu hadir bersama lembaga-lembaga pendidikan dalam mendesign kurikulum, metode dan sarana yang dimiliki guna menghasilkan lulusannya memasuki sebuah era pergaulan internasional yang ditandai dengan tingginya tingkat kompetisi dan perubahan yang begitu masif dan cepat. Lebih jauh dari pada itu, persoalan terkini yang dihadapi oleh lembaga pendidikan bukan sekadar relevansi antara konten yang diberikan kepada peserta didik dengan kebutuhan dunia kerja supaya lulusannya siap memasuki dunia kerja, akan tetapi lebih mengarah pada apa yang harus dicermati oleh dunia pendidikan terhadap relevansi dimensi paedagogies didaktif (antara lain: teknik pengajaran, kurikulum, metode, tempat pembelajaran dan lainnya) yang searah dan inheren dengan trend budaya global.

Semoga semua problema dan kondisi dunia teknik industri ini dapat menjadi dasar pembenahan kurikulum dan menjadi “pemasok” SDM kebutuhan dunia kerja sehingga semua lulusan perguruan tinggi teknik industri dapat juga menjadi pemain utama dan tidak sekedar menjadi pelengkap saja dalam dunia kerja di Indonesi.Inilah PR besar pemerintahan yang baru terpilih untuk periode 5 tahun kedepan. Sekian (***)