Amrullah Usemahu memegang hasil tangkapan ikan oleh nelayan dengan teknik huhate saat mengikuti trip pemancingan di atas KM.  Nelayan 2016-47, Minggu pagi (2/5/2021) (Foto : Istimewa)
Amrullah Usemahu memegang hasil tangkapan ikan oleh nelayan dengan teknik huhate saat mengikuti trip pemancingan di atas KM. Nelayan 2016-47, Minggu pagi (2/5/2021) (Foto : Istimewa)

BERITABETA.COM, Ambon – Tradisi menangkap ikan cakalang  (tongkol putih) dengan cara huhate (bahasa lokal Maluku) atau pole and line yang kerap dilakukan nelayan tradisional di Maluku, terancam punah.

Ancaman ini menyusul terdapat beberapa kendala yang dihadapi nelayan yang menggunakan cara huhate, tradisi menangkap ikan yang ramah lingkungan ini.

Wakin Sekretaris Jenderal (Wasekjen) Masyarakat Perikanan Nusantara, Amrullah Usemahu, SPi kepada beritabeta.com, Minggu malam (2/5/2021) mengungkapkan sejumlah masalah yang kini melilit nelayan di Maluku Tengah.

Amrullah menyebutkan, kondisi nelayan tradisional di perikanan Maluku yang menggunakan teknik pole and line saat ini mengalami kemunduran yang cukup signifikan.

“Dulu kapal-kapal yang mencari ikan cakalang dengan menggunakan teknik ini berjumlah di atas 100 -an unit, namun sekarang kegiatan operasional kapal ini semakin menurun,” ungkapnya.

Ia menyebutkan, beberapa kendali yang dihadapi nelayan meliputi, biaya operasional kapal yang cukup tinggi, dan daerah fishing ground yang semakin jauh. Selain itu, ketersediaan umpan hidup jenis ikan Lemuru (Sardinella sp)  juga ikut mempengaruhi kegiatan melautnya kapal huhate

Penggunaan umpan hidup oleh nelayan ini, kata Usemahu  biasa diperoleh dari bagan.  Namun ketersediaan umpan hidup di perairan yang kadang kurang kondusif dapat berakibat negatif pada operasional melaut kapal pole and line.

“Saya mencoba berdiskusi dengan Nakhoda KM.  Nelayan 2016-47 pak Ali.  Ia mengaku selain nanti faktor musim penangkapan, namun kendala umpan hidup sangat mempengaruhi aktifitas penangkapan ikan dengan menggunakan pole and line,” beber Amrullah yang baru saja ikut dalam kegiatan penangkapan ikan dengan cara huhate di perairan Seram itu.

Para nelayan yang siap-siap diatas kapal dengan huhate untuk memancing ikan cakalang (foto; istimewa)

Dia juga mengaku, kendali ini belum termasuk dengan fish behavior (prilaku ikan) cakalang (Katsuwonus pelamis).   Meskipun  boy-boy (sebutan bagi pelempar umpan) telah melempar umpan ke laut namun kadang ikan cakalang kadang tidak merespon atau memakannya.

“Kondisi dan kualitas umpan juga perlu diperhatikan,” urainya. 

Dengan kondisi ini, kata Usemahu, potensi perikanan cakalang di Maluku dengan teknik penangkapan menggunakan pole and line harus menjadi perhatian khusus untuk dikembangkan di Maluku menyambut implementasi Maluku sebagai Lumbung Ikan Nasional (LIN). 

“Tradisi menangkap ikan dengan alat tangkap huhate ini sangat selektif,  satu pemancing dengan satu joran akan menangkap 1 ikan saat kegiatan penangkapan berlangsung.  Kemudian dengan perekrutan ABK  diatas 10 orang akan banyak membuka lapangan kerja bagi masyarakat, selain itu juga ramah lingkungan,” bebernya.