Hampir semua roket yang ditembakkan adalah Qassam yang diluncurkan oleh peluncur Grad 122 mm yang diselundupkan ke Jalur Gaza, memberikan jangkauan yang lebih jauh daripada metode peluncuran lainnya.

Hampir satu juta orang Israel yang tinggal di selatan berada dalam jangkauan roket, menimbulkan ancaman keamanan yang serius bagi negara dan warganya.

Ancaman demi ancaman ini membuat Israel harus putar otak. Pada Februari 2007, Menteri Pertahanan Amir Peretz memilih Iron Dome sebagai pertahanan Israel terhadap ancaman roket jarak pendek ini.

Sejak itu, sistem senilai $ 210 juta mulai dikembangkan oleh Rafael Advanced Defense Systems yang bekerja sama dengan IDF.

Sistem pertahanan Iron Dome diperkirakan menghabiskan dana hingga 100 juta dollar AS atau sekitar Rp 1,4 triliun. Satu unit Irone Dome disebut dapat menjaga area seluas 150 kilometer persegi.

Dalam perkembangannya, Iron Dome juga mendapatkan sokongan dari Amerika Serikat. Meski teknologi ini dikembangkan oleh Israel, namun laporan juga menyebut Amerika Serikat turut mendanai pengembangan setelah beroperasi pada 2011.

Berkat dukungan pendanaan itu, AS memiliki hak produksi terhadap Iron Dome Israel. Israel juga membuka kemitraan dengan perusahaan persenjataan AS bernama Raytheon untuk memproduksi beberapa komponen Iron Dome (BB-DIP)