Trio vocal Floor, Sofie dan Cato saat melantunkan lagu Sio Mama dalam sebuah konser dibalut dengan gesekan biola dari sang ayah mereka Paul Van Dick
Trio vocal Floor, Sofie dan Cato saat melantunkan lagu Sio Mama dalam sebuah konser dibalut dengan gesekan biola dari sang ayah mereka Paul Van Dick

BERITABETA.COM – Membahas Maluku dan Belanda ternyata tidak saja berhenti pada sejarah masa kelam. Selain pernah menjadi wilayah koloni Belanda akibat kemashuran rempah-rempahnya, ternyata Maluku begitu berkesan bagi warga Belanda tentang seni dan budaya-nya.

Seperti yang dilakukan Paul Van Dijk.  Dokter asal negeri kincir angin ini begitu cinta pada Maluku. Paul bukan orang baru di Maluku. Ia seorang dokter yang pernah menetap di kota Ambon dan bertugas di Rumah Sakit Otto Kuyk Ambon, Maluku, pada 1977 lalu.

Kesannya kepada Ambon dan Maluku membuatnya begitu dekat dengan  seni dan budaya yang dikandung warga Maluku.  Paul Van Dijk akhirnya mempelajari lagu-lagu (donci) Maluku dari para perawat yang bekerja dengannya.

Hingga satu saat ketika keempat putra-putrinya lahir, Van Dijk memutuskan kembali pulang ke Negeri Belanda. Ia selalu mengingat masa-masa menetap di Maluku melalui lagu-lagu khas daerah Maluku yang kerap diputar untuk anak-anaknya.

Kebiasaan Paul Van Dijk akhirnya menular ke anak-anaknya. Mereka adalah Floor, Sofie, Cato dan Joost. Keempat anaknya ini begitu femiliar dengan lagu-lagu Ambon dan mampu melantunkannya dengan apik.

Dikutip dari koran siwalima, terbitan 2009 lalu, di Belanda,  Pual Van Dijk menetap bersama keluarga di Wilayah Marken, Amsterdam. Disana  ia selalu dibalut rasa rindu kepada tanah Maluku. Kecintaan itu, akhirnya membuat Paul Van Dijk membentuk sebuah  band keluarga yang diberinama Van Dijck Band dengan mengusung musik dan lagu-lagu Maluku.

Hendriette van Dijk, istri dari dokter Paul van Dijk bercerita sejak bertugas di Ambon suaminya sangat menyukai orang Ambon termasuk budaya-nya. Setelah dikarunia empat orang anak, Mama Yet  begitu sapaan akrab istrinya, ternyata Paul van Dijk mengajari anak-anaknya dengan lagu-lagu Ambon yang pernah dia pelajari.

“Anak-anak kami pun mulai mencintai Maluku bahkan ketika pada tahun 1994 saat kami sekeluarga datang berlibur Natal di Ambon dan menginap di Wisma Gonzalo Veloso ternyata si bungsu Cato tidak mau pulang ke Belanda dan ingin tetap di Ambon,” katanya kepada Izak Tulalesy dari Siwalima saat itu.

Di Belanda, kata  Mama Yet, Van Dijk Band selalu diundang pada acara-acara orang Maluku di Belanda bahkan setiap tahun juga selalu menyanyi lagu-lagu Maluku di pasar malam Maluku.

Tahun 2009 silam, tepatnya pada tanggal 21 dan 22 Agustus, Van Dijk sempat balik lagi ke Kota Ambon. Bersama keempat anaknya mereka menggelar konser di Taman Budaya, Karang Panjang Ambon.

Tampil di gedung teater tertutup Taman Budaya Maluku. Van Dijk Band tampil memukau.   Penonton menjadi terharu melihat dokter Paul van Dijk bersama empat putra-putrinya menyuguhkan belasan lagu.

Malam itu band asal Belanda ini, melantungkan empat buah berbahasa Inggris.  Dan sisanya merupakan lagu Maluku yang hist dinyanyikan secara apik oleh mereka sambil sesekali berganti alat musik.

Dalam acara bertajuk “Van Dijk Band Charity Show Ambon Tour 2009” tersebut, penampilan trio vocal Floor, Sofie dan Cato yang dipadu dengan Joost (vocal/drum/gitar) serta sang ayah Paul van Dijk (gitar) sangat memukau para penonton. Apalagi Floor selain vocal juga bermain bas, Sofie (vokal, biola, gitar) dan Cato (vocal dan biola).

Mengawali penampilan Van Dijk Band tersebut, Hendriette van Dijk, istri dari dokter Paul van Dijk tampil dengan anggun mengenakan kebaya Ambon menyapa para penonton. Mama Yet, mengawali sambutan perkenalan dengan bahasa Melaku Ambon, namun kemudian diganti dengan bahasa Inggris.

Begitu konser hari terakhir Sabtu (22/8/2009) dimulai, Paul langsung menyapa para penonton. “Malam bae,” ujar Paul yang langsung disambut tepuk tangan para penonton yang sudah menunggu penampilan mereka malam itu.

Van Dijk Band kemudian tampil menggebrak dengan beberapa lagu Ole Sioh. Kemerduan suara Van Dijk Band kemudian dilanjutkan dengan lagu Sincerelly, Buka Pintu, Panggayo, Gepe-Gepe, Falling in Love, Kole-Kole, I Wanna Hold Your Hand dan Ouw Ullath e.

Usai beristirahat sekitar 30 menit setelah menyanyikan lagu Ouw Ullath e, personil Van Dijk Band kemudian tampil pada sesi kedua dengan penampilan yang sangat luar biasa.

Setelah pada sesi pertama mereka menggunakan busana modern ala Eropa, maka di sesi kedua mereka menggunakan pakaian Ambon. Paul menggunakan baniang berwarna merah, Joost baniang biru, Sofie berkebaya biru, sedangkan Floor dan Cato berkebaya merah.

Sesi ini dimulai Van Dijk Band dengan menyanyikan lagu Beta Berlayar Jauh. Namun tidak semua personil berada diatas panggung. Cato ternyata muncul dari arah belakang penonton yang sementara serius memandang keatas panggung. Suara khas Cato yang tampil dengan berkebaya Ambon warna merah tersebut mengagetkan penonton, apalagi Cato mampu bereksplorasi dengan suara merdunya.

Penampilan mereka pun dilanjutkan dengan lagu Waktu Hujan Sore-Sore, Ayo Mama, Laju-Laju, Lembe-Lembe, Poco-Poco, Sayang Kane dan diakhir dengan Maluku Tanah Pusaka.

Kelihayan keluarga Van Dijk dalam melantunkan lagu-lagu Ambon ini membuat orang-orang Ambon, Maluku begitu dekat mengenal group band asal Belanda ini.

Padahal, band asli Belanda ini tidak punya hubungan darah sedikitpun dengan Maluku,  Indonesia, tapi sangat mencintai musik Maluku. Meski berada di benua biru, Van Dijk Band yang mempopulerkan lagu-lagu Maluku di Tanah Belanda, membuat kebayakan warga Belanda keturunan Maluku di negeri itu selalu rindu tanah asalnya.

Bahkan lagu-lagu (donci) khas Ambon, Maluku yang dilantunkan Van Dick Band ini sudah beredar luas melalui video-video Van Dijk Band yang dipublish di saluran Youtube (BB-DIO)

SIMAK JUGA VIDEO DI BAWAH INI :