Kees Lafeber
Kees Lafeber

BERITABETA.COM, Ambon– Suatu sore di bulan September 2014,  Kees Lafeber  duduk di tepi pantai. Dia menatap sepanjang pantai dan tak sadar matanya basah. Ada bulir air mata yang jatuh di pipinya.  Dalam hatinya bergumam, “Kenapa pantai Laino, sudah berubah drastis seperti ini,”

Kees duduk membayangkan jauh kedepan, tentang sebuah pantai di  Negeri Haria, Kecamatan Saparua, Kabupaten Maluku Tengah, yang dari tahun ke tahun berubah menjadi rusak, karena dipenuhi sampah.  Rasa sesak di dada makin terasa, saat mengenang jauh akan indahnya   pemandangan pulau Molana yang dikenal eksoktik itu.  Pria berwarga negara Belanda ini, akhirnya beranjak pulang ke rumah istrinya di Negeri Haria, dengan rasa penyesalan.

“Saya menjadi  sedih. Sejak  awal datang dari  Belanda ke  Maluku tahun 1983 saya menemukan sesuatu yang luar biasa.  Disini pemandangan dan panorama alamnya sangat indah memukau. Lautnya cukup bersih. Tapi, saat saya balik kesini lagi, hati saya jadi hancur,  banyak yang berubah, pantai yang indah sudah dipenuhi sampah,” kenang Kees Lafeber di ujung telepon saat mengisahkan perjuangannya membebaskan sampah di Pulau Saparua kepada beritabeta.com, Selasa (19/3/2019).

Sejak itu,  Kees berpikir untuk memulai sesuatu untuk mengatasi hal itu. Sebab, dia merasakan tidak ada satu pun warga yang peduli dengan apa yang terjadi tentang limbah, terutama plastik.

Kees Lafeber bersama AMGPM Lease dan Klasis Pulau Saparua dalam sebuah kegiatan pembersiahan pantai (Foto : Dok Kees Lafeber)

“Saya melihat anak-anak kecil dulu, yang kini sudah berumur 30 tahunan, mereka tidak lagi merasakan keindahan pantai tanpa sampah.  Dan setelah saya pensiun dari tugas sebagai mantri kesehatan di Den Haag, Belanda saya memutuskan untuk kembali lagi ke Haria kampung istri saya pada tahun 2014,” ungkapnya.

Perjuangan Kees Lafeber memang cukup menantang. Mengkampanyekan program kebersihan lingkungan bukan sesuatu yang gampang. Dia akhirnya memutuskan untuk menjalankan sebuah program yang diberinama program ‘Saparua Bebas Sampah tahun 2020’.

“Saya merasakan sebuah tantangan yang cukup berat. Mewujudkan impian ini, tidak mungkin saya bisa kerja sendiri, tidak mungkin hanya satu negeri (desa) yang saya sentuh. Saya butuh kolaborasi dan keterlibatan banyak pihak dan itulah saya wujudkan dengan program ini,” katanya menjelaskan.

Suami dari Nona Laihitu  ini mengatakan, hal yang paling penting dari program ini bagaimana bisa merubah pola pikir masyarakat di Pulau Saparua. Gaya hidup tentang pengolahan limbah ini memang harus didudukkan dan menjadi pegangan utama masyarakat.

“Limbah disini (Saparua) sudah melebihi, sudah menjadi problem dalam hidup masyarakat disini. Sampah plastik yang dibuang, akan manjadi mikro plastik di laut. Ikan  memakannya, dan manusia mengkonsumsi ikan, maka akan sangat berbahaya bagi kesehatan manusia, ”katanya.

Saat memulai semua itu, Kess Lafeber mengakui, semua orang yang dijumpai dan diceritakan tentang niatnya  mengolah sampah, sepertinya merasa tidak ada masalah dengan apa yang diungkapkan. Namun, perjuangannya menjelaskan tentang sampah dengan semua akibat yang ditimbulkan akhirnya berbuah. “Dulu tidak ada yang merasakan ada masalah. Saat ini sebuah sudah sadar memang sampah menjadi masalah,”katanya.

Sejak memulai program  ‘Saparua Bebas Sampah tahun 2020’ hingga kini sudah ada puluhan aksi pembersihan sampah di pantai dan lingkungan pemukiman yang melibatkan sejumlah pihak.

Kees mengandeng pihak gereja. Dimulai dengan melibatkan jemaat gereja di Negeri Haria. Dari situ, kemudian ketua jamaat Gereja Haria memfasilitasinya bertemu dengan Ketua Klasis GPM Pulau Lease dan selanjutnya hal yang sama dilakukan dengan Kepala UPTD Pendidikan di Kecamatan Saparua.

Atas komunikasi yang terbangun,  kemudian dilakukan kerjasama dengan pihak –pihak tersebut, Klasis GPM di Pulau Saparua dan pihak-pihak sekolah dengan melibatkan para siswa dan juga pengurus Masjid di Negeri Siri Sori Islam, akhirnya melakukan berbagai kegiatan.

“Semua kegiatan itu kita lakukan dengan memberikan edukasi tentang sampah, motivasi dan berbagai kegiatan,” jelas Kees.

Kees Lafeber akhirnya membentuk sebuah yayasan yang dibernama “Happy Green Island”. Lewat yayasan ini sudah banyak kegiatan bertopik lingkungan dilakukan. Mulai dari pembuatan pupuk organik, mengajarkan konsep budidaya tanaman hidroponik sampai dengan membangun bengkel daur ulang sampah plastik di Negeri Haria.

Kees mengaku misi yang dibawa dalam program di Pulau Saparua murni adalah tentang lingkungan. “Saya tidak urus agama, saya tidak urus politik yang saya urus adalah soal lingkungan yang bersih,”jelasnya kepada beribeta.com.

Kees menuturkan, masih banyak hal yang harus dilakukan terkait lingkungan khususnya di Pulau Saparua. Selain, kegiatan sosialisasi, edukasi tentang lingkungan,  mantan staf di Management di De Jutters, ini berpendapat  diperlukan sebuah sistem  yang terpadu dan sistemik untuk mengatur masalah lingkungan ini.

“Harus ada sebuah sistem yang mengatur masalah lingkungan. Dari proses ini kita bisa menghasilkan uang, dari proses daur ulang saja kita bisa memberikan dampak pertumbuhan ekonomi bagi masyarakat,”bebernya.

Saat ini fenomena  yang terjadi di Indonesia tentang pengolahan sampah  hanya ada di Surabaya, Malang dan beberapa kota di Pulau Jawa. Disana  sudah ada industri pengolahan sampah (daur ulang). Hal ini berberbeda dengan  di Indonesia Timur.  Sama sekali belum ada insutri serupa. Ini artinya, orang Maluku sangat tergantung dengan apa yang dihasilkan di Pulau Jawa.

“Ini yang menyebabkan harga plastik di Indonesia timur sangat rendah. Karena memang tidak ada industri yang menangani masalah daur ulang sampah plastik ini, “katanya.

Soal program sampah di Maluku, Kees menyakini, hal utama yang harus dilakukan adalah upaya menghidupkan lagi budaya dan orang Maluku. Dari budaya ini akan dapat melahirkan banyak hal, karena tidak ada satu pun manusia di muka bumi ini yang tersentuh dengan yang namanya limbah.

Uji coba hasil kreasi dan inovasi yang dilakukan Kees Lafeber dengan membuat perahu dari botol plastik bekas air mineral (Foto: Dok. Kees Lafeber)

“Saya punya keinginan Pulau Saparua di masa mendatang harus bisa menjadi contoh bagi pulau-pulau lain di Maluku. Maluku punya seribu pulau lebih, dan saya kira Saparua harus memulai itu menjadi contoh terkait masalah lingkungan ini,” urainya.

Atas tekad yang dilakukan selama ini, Kees Lafeber sudah menjalankan sejumlah kegiatan di 14 negeri di Pulau Saparua. Semua negeri di Pulau Saparua kini bergerak dan ikut berpatisipasi dengan apa yang dikampayekan seorang WNA asal Belanda ini. Terakhir, Kees juga menjalankan aksi pembersihan di Negeri Siri Sori Islam dalam menyambut pelaksanaan MTQ Tingkat Kabupaten Maluku Tengah.

“Karena disana menjadi tuan rumah MTQ maka kami dorong untuk dilakukan kegiatan yang sama di sana,”jelasnya.

Upaya keras Kees Lafeber membebaskan Pulau Saparua dari sampah, kini perlahan telah membuka pikiran banyak orang disana. Atas dorongan dan motivasi yang dilakukan, di Negeri Iha Mahu, Kecamatan Saparua Timur, program pembersihan dan pengolahan sampah telah menjadi program pemerintah negeri setempat. Raja Negeri Iha Mahu bahkan memberi gaji kepada warga yang dijadikan petugas pembersih.

“Saya senang di Iha Mahu program pembersihan sudah dilakukan. Raja disana telah menggaji orang setiap bulan untuk membersihkan sampah,” ungkap Kees.

Selain itu, bengkel daur ulang sampah plastik yang dibangun di Negeri Haria, dalam waktu tidak lama lagi sudah mulai beroperasi. Dengan modal mesin pencacah berkapasitas 70 kg per jam, Kees berharap keberadaan bengkel daur ulang ini akan mampu menjadi sebuah kemajuan dalam hal mengelolah sampah dan juga menjadi sumber pendapatan bagi warga.

“Kita sudah punya mesin yang nanti akan mengolah sampah pastik. Hasil cacahan yang dihasilkan akan di bawa ke Tulehu, disana ada rekan saya yang akan mengolahnya menjadi bibit plastik yang siap dikirim ke sejumlah negara,”tandas Kees.

Menutup perbincangan dengan beritabeta.com, Kees menitipkan pesan agar kedepan keterlibatan dan intervensi pemerintah daerah dalam menangani masalah sampah patut dilakukan. Sebab, pemerintah dianggap sebagai pihak yang memiliki banyak kewenangan atas program-program terkait lingkungan ini.

“Saya berharap gubernur bisa melibatkan semua bupati dan camat agar program sampah ini dapat dibicarakan untuk menjadi sebuah program bersama. Saya juga minta bantuan dan  dukungan  dari anak negeri Saparua, agar bisa melihat persoalan ini bersama-sama, ”harapnya. (dhino pattisahusiwa)