Pembersihan lokasi pembangunan Rumah Singgah yang dibangun di Negeri Iha, Kecamatan Saparua Timur. Pembangunan Rumah Singgah yang digagas oleh Tim Peduli Negeri Iha ini diawali dengan peletakan batu pertama yang digelar, Senin (7/1/2019)
Pembersihan lokasi pembangunan Rumah Singgah yang dibangun di Negeri Iha, Kecamatan Saparua Timur. Pembangunan Rumah Singgah yang digagas oleh Tim Peduli Negeri Iha ini diawali dengan peletakan batu pertama yang digelar, Senin (7/1/2019)

BERTABETA.COM, Ambon – Kerinduan akan tanah leluhur terus bergelora. Dari upaya bersih-bersih yang dilakukan di tahun 2018 silam, kini puluhan anak Negeri Iha, Kecamatan Saparua Timur, Kabupaten Maluku Tengah, kembali pulang bergegas membangun Rumah Singgah  di kampung halaman mereka.

Kegiatan membangun Rumah Singgah ini dilakukan, Senin (7/1/2019) dengan melibatkan semua unsur musyawara pimpinan kecamatan (Muspika) dan sejumlah warga dari negeri tetangga di Kecamatan Saparua Timur.

Sekretaris Tim Peduli Negeri Iha,  Kecamatan  Saparua Timur, Ghajali Hatala dalam rilisnya kepada redaksi beritabeta.com menyampaikan, kegiatan pembangunan Rumah Singgah ini menjadi sebuah moment penting yang sudah  direncanakan selama ini.

“Gerakan membangun Rumah Singgah ini kami lakukan atas prakarsa kami sebagai anak negeri. Dengan tujuan kedepan kerinduan akan kembali hidup bergandengan dengan semua basudara di tanah Saparua dapat secepatnya terpenuhi, sehingga hari ini kami awali semua itu dengan membangun Rumah Singga,” tandas Ghali.

Dalam kegiatan ini, kata Ghali, kegiatan pembangunan Rumah Singgah ini, ternyata cukup mendapat respond dan antusias  dari basudara di negeri-negeri tetangga se -jazirah Hatawano.

Warga di sejumlah negeri teatangga ikut terlibat bergotong royang dalam pembangunan Rumah Singgah,  sebagai bentuk kepedulian hidup orang basudara.

“Ini adalah wujud kepedulian kami pada negeri yang telah lama kami tinggalkan. Kami rindu akan situasi kehidupan persaudaraan yang dulu dibangun dan telah dicontokan oleh para pendahulu kami,”kata Ghali.

Jajaran pemerintahan Kecamatan Saparua Timur dipimpinan Camat Saparua Timur Halid Pattisahusiwa, saat menyampaikan pernyataan dukungan terhadap rencana kembalinya ratusan KK warga Negeri Iha di tanah leluhur mereka.

Menurutnya, rumah singgah yang dibangun dengan ukuran 9×7 meter ini merupakan sebuah langkah kongkrit kepedulian tim  kepada negeri yang telah ditinggalkan sejak tahun 2000 silam.

Prosesi berlangsungnya pembangunan Rumah Singgah ini diawali dengan kegiatan peletakan batu pertama yang dilakukan oleh salah satu tokoh warga Negeri Iha dan Camat Saparua Timur, Halid Pattisahusiwa.

Hadir dalam prosesi peletakan batu pertama ini, Camat Saparua Timur, Latupati dan seluruh Raja se- Kecamatan  Saparua Timur, Limlinan Majelis Jemaat se- Kec. Saparua Timur, Pimpinan Badan Pekerja Klasis PP Lease, para Kepala Pemuda Negeri se Jazirah Hatawano, Ketua KNPI Saprua Timur dan berbagai komponen masyarakat lain di Pulau Saparua.

Camat Saparua Timur Halid Pattisahusiwa  dalam sambutannya mengatakan, Pemerintah Kecamatan Saparua Timur dengan dukungan  para raja dan 9 negeri di Kacamatan Saparua Timur, akan tetap mensuport rencana pembangunan Rumah Singgah yang kini dibangun, sebagai langkah awal mewujudkan keinginan untuk kembali menetap di Negeri Iha.

“Saya kira sebagai pimpinan pemerintahan di kecamatan ini, kami tetap mensuport pembangunan rumah singgah ini, sebagai upaya mewujudkan apa yang dicita-citakan selama ini. Tentunya, dukungan ini juga disertai dengan dukungan pemerintah dari sembilan negeri yang ada di kecamatan ini,”tandas Halid.

Untuk itu, kata Halid, upaya dan langkah yang kini ditempuh Tim Peduli Negeri Iha, kedepan akan menjadi sebuah oase bagi kelangsungan kehidupan dalam bingkai orang basudara di Pulau Saparua.  Apalagi, Negeri Iha adalah negeri adat yang sejak zaman leluhur dulu sudah menjadi bagian dari Pulau Saparua ini.

Hal serupa juga disampaikan Latupati Saparua Timur yang diwakili Raja Negeri Tuhaha,   M. Sasabone. Ia mengatakan, dukungan Latupati di Kecamatan Saparua Timur merupakan hal yang mutlak diberikan, karena sesungguhnya peletakan batu pertama Rumah Singgah ini adalah bagian yang paling penting untuk mengajak basudara warga Negeri Iha untuk cepat pulang hidup berdampingan di tanah leluhur ini.

“Kami yakin, pembangunan Rumah Singgah ini akan menjadi awal yang baik dan akan dilanjutkan dengan pembangunan lanjutan kedepan, sehingga kerinduan dan keinginan basudara dari Negeri Iha untuk pulang ke tanah leluhur akan segera tercapai dalam waktu yang tidak lama lagi,”tandasnya.

Pembangunan Rumah Singgah ini bersumber dari sumbangan sukarela masyarakat Negeri Iha. Selain itu, dalam prosesi peletakan batu pertama,  Badan Pekerja Klasis Pulau-Pulau Lease yang diwakili Sekretaris bersama Pimpinan Majelis Jemaat Kecamatan  Saparua Timur, ikut  menyumbangkan 100 zak semen sebagai wujud kepedulian sesama orang  basudara di Pulau Saparua.

Sedangkan pimpinan pemerintah negeri baik di Kecamatan  Saparua maupun Saparua Timur masing-masing turut memberikan sumbangan material bangunan berupa semen, besi maupun matrial bangunan lainnya (BB-DIO)