Penulis bersama sang ayah
Penulis bersama sang ayah

Dalam gemuruh takbir, Qadhi Al - Marastan bertanya - tanya, ada apa sebenarnya ?

Satu diantara para tetua itu menceritakan bahwa dulu, ayah si gadis ini adalah imam mesjid ini.  Sejak pulang dari ibadah haji, ia tidak pernah berhenti berdoa dan kami pun meng-amin-kan di belakangnya.  

"Wahai Rabb-ku, aku tidak pernah mendapatkan seorang pun semisal orang yang menemukan kalungku, Wahai Rabb-ku, pertemukanlah aku dengannya, sehingga aku bisa menikahkan dia dengan anak perempuanku satu-satunya,"ungkap mereka kepada Qadhi.

Setelah wafatnya beliau, kami tak lagi berpikir akan doa - doa ini. Tapi hari ini, Allah menjawab doa - doa beliau dengan memerintahkan gelombang laut-Nya membawamu ke sini ke hadapan kami. Ma sha Allah.

Kisah ini meninggalkan hikmah terdalam yang tersimpan di palung hatiku. Kadang Allah menguji kita justeru di saat kita dalam keadaan lemah. Kita dihadapkan pada satu pilihan yang sungguh - sungguh menguji kekuatan iman. Dan pilihan itulah menjadi awal takdir sebagai jawaban kepada Allah kemana ujung perjalanan kita berakhir.

Para ayah, percayalah...

Jangan lelah menitipkan setiap kalimatmu kepada Sang Maha Pemberi. Jika penghuni langit ikut mengaminkannya, Allah datangkan dengan cara-Nya, bahkan bersama kemarahan angin sekalipun. Wallahu a'lam bishowab.

Geldrop, 11 Rajab 1442 H.

Sumber : Khazanah Islam, Kalam