Danrem 151/Binaiya, Brigjen TNI Arnold A.P. Ritiauw bersma Vertical Rescue Indonesia usai pelepasan Tim Ekspedisi 1000 Jembatan Gantung Untuk Indonesia  yang akan bertolak menuju Pulau Seram, Selasa (6/4/2021) (Foto : Istimewa)
Danrem 151/Binaiya, Brigjen TNI Arnold A.P. Ritiauw bersma Vertical Rescue Indonesia usai pelepasan Tim Ekspedisi 1000 Jembatan Gantung Untuk Indonesia yang akan bertolak menuju Pulau Seram, Selasa (6/4/2021) (Foto : Istimewa)

BERITABETA.COM, Ambon – Keterisolasian akses transportasi yang dialami warga di Kecamatan Kilmury, Kabupaten Seram Bagian Timur (SBT) kini menjadi perhatian dari pihak TNI dan Vertical Rescue Indonesia (VRI).

Dalam waktu dekat ini, Komandan Korem (Danrem) 151/Binaiya, Brigjen TNI Arnold A.P. Ritiauw,  bersama VRI akan membangun jembatan gantung sepanjang 120 meter untuk membuka salah satu akses di kecamatan tersebut.

Ketua VRI Regional Maluku, M. Azis Tunny kepada beritabeta.com  mengatakan, program membangun jembatan gantung di Kilmury ini merupakan kegiatan lanjutan antara pihaknya bersama TNI.  

Sebelumnya, kata Azis,  VRI bekerjasama dengan Korem 151/Binaiya telah membangun dua jembatan gantung di Desa Neath dan Desa Liang, Kecamatan Leksula, Kabupaten Buru Selatan, tahun 2020 lalu.

Dua jembatan itu dibangun melintasi sungai Nalbesi dengan panjang bentangan jembatan di desa Neath sejauh 80 meter, dan di desa Liang bentang jembatannya 60 meter.

"Jembatan yang dibangun oleh VRI dan TNI ini karena adanya permintaan masyarakat, dan setelah kami survey memang menjadi kebutuhan sangat urgent dan mendesak bagi masyarakat," ungkap Azis Tunny seusai bersama Danrem 151/Binaiya melepas Tim Ekspedisi 1000 Jembatan Gantung Untuk Indonesia yang akan bertolak menuju Pulau Seram, Selasa (6/4/2021).

Menurut Azis, tanpa adanya sebuah jembatan, masyarakat sangat kesulitan saat menyeberangi sungai, apalagi ketika musim hujan. Banyak anak-anak dan perempuan terpaksa harus menantang maut, hanya untuk bisa menyeberangi sungai.

"Sungai yang dibangun jembatan ini setiap hari dilintasi masyarakat, termasuk oleh anak-anak yang pergi dan pulang sekolah ke desa tetangga. Kondisi kemudian menjadi sangat berbahaya, apabila arus sungai meluap dan deras saat musim hujan. Namun masyarakat tidak punya pilihan lain, selain harus menyeberangi sungai," ujarnya.