Pembangunan ruas jalan Masiwang – Airnanang, Kecamatan Tutuktolu, Kabupaten Seram Bagian Timur (SBT) yang berstatus Jalan Nasional, diklaim sebagai  keberhasilan yang dicapai Bupati SBT Mukti Keliobas (FOTO :  FB : Abdul Khalil Arbani)
Pembangunan ruas jalan Masiwang – Airnanang, Kecamatan Tutuktolu, Kabupaten Seram Bagian Timur (SBT) yang berstatus Jalan Nasional, diklaim sebagai keberhasilan yang dicapai Bupati SBT Mukti Keliobas (FOTO : FB : Abdul Khalil Arbani)

BEERITABETA.COM, Ambon – Meski Pilkada langsung 2020 di Kabupaten Seram Bagian Timur (SBT) baru  memasuki tahapan penjaringan calon oleh partai politik, namun kritikan dan dukungan kepada beberapa figur calon yang diidolakan sudah ‘nyaring’ disuarakan warganet di dunia maya.

Salah satu yang dihimpun beritabeta.com dalam sepekan ini, adalah terkait tampilnya Bupati SBT Mukti Keliobas (MK) sebagai bakal calon incumbent yang kembali disuarakan pendukungnya sebagai bupati yang berhasil membangun Kabupaten SBT dan dijagokan bakal kembali memimpin SBT kedepan. 

Para pendukung MK, dalam beberapa postingan di media sosial facebook, menampilkan pekerjaan pembangunan ruas jalan Masiwang – Airnanang, Kecamatan Tutuktolu, Kabupaten SBT, sebagai sebuah keberhasilan nyata yang dilakukan Bupati MK.

Sontak saja, pujian ini dibalas dengan status setir oleh beberapa netizen. Mereka menilai apa yang disebut keberhasilan yang diraih MK adalah sebuah pujian yang tidak mendasar.

“Ini yang dibilang tolak ukur keberhasilan Pemerintah Daerah, Bupati SBT”. Mereka pura-pura buta dan tuli atas kondisi sosial, ekonomi, dan pelayanan publik yang kain hari semakin memburuk,” tulis akun Abdul Khalil Arbani yang diunggah di group facebook, New Pilar –SBT.

Arbani mengatakan, publik pada umumnya tahu bahwa pekerjaan rus jalan Masiwang-Airnanag saat ini, adalah pekerjaan berkelanjutan yang sudah di diprogramkan jauh -jauh hari sebelum pemerintahan ini memimpin, dan status jalan tersebut adalah jalan Nasional yang dananya bersumber dari APBN.

Arbani bahkan mengurai sejumlah fakta kegagalan dari pemerintahan di bawah kendali mantan Ketua DPRD Kabupaten SBT itu.

Dalam statusnya, Arbani menyebutkan, beberapa waktu lalu Ombudsman RI Perwakilan Maluku telah merilis hasil survei yang menempatkan Kabupaten SBT, berada pada peringkat ketiga Nasional, sebagai daerah dengan pelayanan publik terburuk.

Selain itu, masalah gizi buruk yang masih terus ditemukan terjadi di SBT dan  dilansir sejumlah media lokal di Maluku, juga menjadi preseden buruk kepemimpinan Bupati MK di bidang kesehatan.

Fakta dari hal ini, terungkap dalam tiga bulan terakhir, terdapat empat kasus anak dengan gizi buruk dirawat di RSUD Bula untuk menjalani perawatan. Satu diantaranya bernama Lahusin Tan Rubun (6), asal Desa Effa, Kecamatan Wakate. Lahusin Tan Rubun menjalani perawatan di RSUD Bula sejak Rabu, 18 Desember 2019.

Sebelumnya, kasus serupa juga menimpa Muhammad Tamsil R (7) warga Kecamatan Bula Barat, SBT meninggal dunia, tepatnya Minggu 17 November 2019, sekitar pukul 00.05 WIT. Anak dari Abdul Patiekon dan Nuryati Patiekon ini, meninggal setelah mengalami perawatan intensif selama sehari penuh di RSUD Bula.

Selain Tansil, juga terdapat dua penderita gizi buruk yakni, Ririn Febriyanti Arey dan Maulana Daeng Praty warga Desa Bula, Kecamatan Bula, yang saat itu masih dirawat di RSUD Bula. Keduanya dirawat sejak 16 November 2019.

Selain masalah di bidang kesehatan, Arbani juga mengungkap kegagalan di bidang pemerintahan. Dimana pada kepemimpinan Bupati MK, masih terdapat sejumlah  Pimpinan OPD yang hingga saat ini masih berstatus sebagai pelaksana tugas (Plt).

Kemudian, hal lain adalah terkait penganggaran di Pemkab SBT seperti, APBD-P tahun 2019 yang tidak dapat dibahas dan APBD 2020 yang mengalami devisit. Kemudian terkait, kuota CPNS 2019 yang sedikit jumlahnya jika dibandingkan dengan kabupaten lain di Maluku dan tidak mengakomodir formasi tenaga guru dan kesehatan.

“Padahal ada banyak sekolah dan Pustu/Puskesmas yang kekuarangan tenaga. Masih, terngiang di kepala kejadian beberapa hari lalu, SMA 13 SBT yang berlokasi di Kecamatan Pulau Panjang dipalang warga karena kekurangan guru,” tulis Arbani.

Arbani menilai, meski kondisi tersebut jelas terlihat di depan mata. Toh, masih ada segelintir orang (buzzer) yang terus menyajikan narasi-narasi ‘kotor’ atas keberhasilan pemerintahan ini melalui media media sosial (facebook).

“Mereka tidak mampu membedakan mana keberhasilan sebagai pribadi dan mana keberhasilan sebagai pemimpin di pemerintahan,” bebernya.

‘Setali tiga uang’ dengan akun Abdul Khalil Arbani, politisi muda PPP asal SBT, Idrus Wakano bahkan menulis postingan diakun pribadinya menyentil postingan salah satu seniornya yang dinilai kerdil menilai keberhasilan pembangunan dalam kepemimpinan Bupati MK. 

“Sekerdil itu pendekatan keberlanjutan pembangunan dalam perspektif politisi besar yang kita kenal selama ini?,” tanya Idrus.

Idrus membeberkan sejumlah pertanyaan menggugah. Mislanya,   “Di zaman Bupati AV (Abdullah Vanath –red), pengembalian Dana Alokasi Khusus (DAK) ke Kas Negara sebesar di zaman Bupati Pak MK? Lantas, apakah itu yang disebut keberlanjutan ?,”

Masih beber Idrus, “Di zaman Bupati AV, tidak ada Plt. Kadis hampir 1 periodesasi. Di zaman Bupati MK, bagaimana?

“Di zaman Bupati AV, tidak ada Karteker Kades hampir 1 periodesasi. Di zaman Bupati MK ??

“Di zaman Bupati AV, postur APBD kita berapa? Korelasikan dengan laju pembangunan kala itu ??

Idrus kemudian, meminta agar kondisi ini dibandingkan dengan postur APBD di zaman Bupati MK serta jujurlah menyatakan yang sebenarnya.

Kata Idrus, lihat juga, di zaman Bupati AV Perusda SBT berjalan baik, walau tertatih-tatih. Di zaman Bupati MK ??

“Jika diskusi kita pada keberlanjutan pembangunan zamannya Bupati AV dan Bupati MK, jangan parsial senior. Jangan 1 hal dijadikan titik keberhasilan lantas menggusur berbagai catatan buramnya Bupati MK. Sudahlah, masyarakat kita ini cerdas. Anak-anak muda hari ini tampil terdepan memberikan pencerahan dengan logika yang tidak asal-asalan. Senior, Stop Tipu – Tipu,” tulis Idrus mengingatkan (BB-DIO)