Kondisi KMP Marsela yang dibiarkan tak terurus di lokasi dok perkapalan Waiyame, Ambon (Foto : Istimewa)
Kondisi KMP Marsela yang dibiarkan tak terurus di lokasi dok perkapalan Waiyame, Ambon (Foto : Istimewa)

BERITABETA.COM, Ambon – Nasib malang menimpa dua unit Kapal Motor Penyeberangan (KMP) bantuan Pemerintah Pusat (Pempus) yang diperuntukkan untuk menopang kelancaran transportasi di dua kabupaten di Provinsi Maluku.

Kedua KMP itu masing-masing KMP Marsela yang dikelola Pemerintah Kabupaten Maluku Barat Daya (MBD) dan KMP Bobot Masiwang yang dikelola Pemkab Seram Bagian Timur (SBT).

Kapal bantuan Pempus  kepada Pemerintah Provinsi (Pemprov) Maluku itu, kini senasib dan terancam menjadi ‘besi tua’, lantaran tidak terurus dan nyaris tenggelam di laut Teluk Ambon.  Padahal, masing-masing kapal ini dibangun dengan menelan biaya sebesar 28 miliar lebih.

Beberapa hari lalu, kondisi KPM Marsela sempat menjadi perhatian netizen, karena kondisinya yang makin memprihantinkan. Kapal itu tampak bagian belakangnya tenggel. Air laut mulai mengenagi bagian belakang kapal dan merendam ruang mesinnya.

Kondisi ini sempat jadi gunjingan warganet, setelah diposting oleh salah satu akun bernama Recky J Work’s pada, Senin 15 Februari 2021. Akun tersebut menulis “Feri kebanggaan masyarakat MBD perlahan mulai turun ke dasar laut”.

Recky J Work’s juga menampilkan penggalan video yang memperlihatkan bagian belakang KPM Marsela sudah tergenangi air laut dan dijadikan sejumlah anak sebagai tempat berenang.

Sontak postingan ini menuai ragam komentar. Banyak netizen yang menyalahkan pihak pengelola PT. Kalwedo yang selama ini menangani kapal feri tersebut.

“Dong seng rasa berdosa untuk uang negara miliaran Rp itu ka,” tulis John Harold menanggapi postingan itu.

Kritik terhadap pengelolaan  KMP Marsela ini juga disampaikan akun Paet Bulohroy. Ia menampilkan foto KMP Marsela dengan menulis caption  “Hanya Tuhan dan Tete Nene Moyang Yang Tahu Sapa Pung Perbuatan,”

Seperti diketahui, KMP Marsela dibangun pada 2010 senilai Rp28,16 miliar. Pempus memberikan bantuan kapal ini kepada Pemprov Maluku, kemudian oleh Pemprov Maluku dihibahkan kepada Pemkab MBD.

Proses penyerahan KMP Masela dilakukan oleh Kadis Perhubungan Maluku yang saat itu dijabat oleh  Benny Gaspersz dan diterima Asisten Pemerintah Setda setempat, Angelius Renjaan.

Kapal bantuan itu kemudian dikelola PT. Kalwedo dengan trayek perintis Ambon – Damer – Kisar – Leti – Moa – Lakor – Sermatang – Tepa – Letwurung – Dawelor – Marsela. Namun entah kenapa KMP Marsela kemudian berhenti beroperasi dan kondisinya sekarang tidak lagi terurus.

Kondisi yang menimpa KMP Marsela juga senasib dengan KMP Bobot Masiwang yang dihibahkan kepada Pemkab SBT dan dioperasikan PD. Mitra Karya dengan melayani lintas penyeberangan perintis Ambon – Bula – Airnanang – Geser – Gorom – Kesui.

KPM Bobot Masiwang juga naik dok. Bahkan kondisinya serupa dibiarkan tak terurus di pantai Teluk Ambon. Padahal kapal 500 GT itu saat dibangun tahun 2012 juga  menelan anggaran sebesar Rp28,26 miliar (BB-DIO)