Fajrin Rumalutur (Inisiator Gerakan Maluku Sehat/GEMAS)
Fajrin Rumalutur (Inisiator Gerakan Maluku Sehat/GEMAS)

Oleh : Fajrin Rumalutur (Inisiator Gerakan Maluku Sehat/GEMAS)

DALAM 20 tahun terakhir Indonesia menghadapi tantangan krusial yaitu Persoalan pemenuhan gizi. Gizi menjadi masalah yang sangat penting sebab berhubungan erat dengan pemenuhan kebutuhan dasar setiap manusia.

Laporan Global Nutrition Report menunjukan Indonesia masuk kedalam 17 negara yang memiliki tiga problem gizi sekaligus yakni : stunting (pendek), Wasting (kurus) dan overweight atau gizi lebih (Obesitas).

Data yang dilansir dari berbagai sumber menunjukan persoalan gizi menjadi demikian kompleks dan memerlukan pendekatan intervensi kebijakan yang komperehensif dengan melibatkan berbagai pemangku kepentingan di masyarakat.

Intervensi spesifik yang berkaitan langsung dengan pola asupan dan kesehatan maupun intervensi sosial ekonomi, penyediaan infrastruktur, ketahanan pangan dan seterusnya.

Determinan Faktor

Berbagai faktor ikut mempengaruhi persoalan kekurangan gizi di indonesia antara lain rendahnya pemahaman tentang pola konsumsi yang sehat, lingkungan yang tidak bersih, sanitasi yang buruk, akses terhadap pangan yang terbatas, pola asuh anak, dan aksesibilitas keluarga utamanya keluarga miskin terhadap fasilitas pelayanan kesehatan dasar.

Disamping berbagai persoalan di atas faktor yang paling dominan mempengaruhi persoalan gizi di Indonesia adalah Kemiskinan. Kemiskinan menjadi determinan faktor, Kondisi faktual di Indonesia menunjukkan adanya korelasi antara kurang gizi dan problem kemiskinan.

Proporsi anak yang gizi kurang dan gizi buruk berbanding terbalik dengan pendapatan. makin kecil pendapatan penduduk, makin tinggi persentase anak yang kekurangan gizi, makin tinggi pendapatan, makin kecil persentasenya. (Soekirman, 2005)

Negara-negara yang secara ekonomis kurang berkembang (low Income Country), sebagian besar penduduknya berukuran lebih pendek karena gizi yang tidak mencukupi, dan pada umunya masyarakat yang berpenghasilan rendah mempunyai ukuran badan yang lebih kecil. masalah gizi di negara-negara  miskin yang berhubungan dengan pangan adalah mengenai kuantitas dan kualitas.

Kuantitas menunjukkan penyediaan pangan yang tidak mencukupi kebutuhan energi bagi tubuh, Kualitas berhubungan dengan kebutuhan tubuh akan zat gizi khusus yang diperlukan untuk petumbuhan, perbaikan jaringan, dan pemeliharaan tubuh dengan segala fungsinya (CNBC, 2017)

Pendekatan Lintas Sektor

Untuk mengatasi persoalan gizi  tidak cukup hanya memberi perhatian pada sektor kesehatan semata. perlu juga perbaikan di sektor lain seperti pertanian, pendidikan, perlindungan sosial, air, sanitasi, dan kebersihan.

Untuk memastikan bahwa setiap anak menerima nutrisi yang cukup bergantung pada empat faktor penting: asuh, kesehatan, lingkungan, dan ketahanan pangan, bidang-bidang yang mencakup beberapa sektor. (world bank, 2015).

Perang terhadap kekurangan gizi di Indonesia dapat dilakukan dengan intervensi multi-sektoral terkoordinasi yang secara efektif menangani empat faktor utama penentu gizi.

Intervensi pada aspek nutrisi di sektor pertanian, seperti memberikan insentif kepada rumah tangga miskin dan dapat di follow up dengan intervensi terkoordinasi untuk memperbaiki layanan air, sanitasi, kebersihan di masyarakat.

Peran serta seluruh pihak tidak hanya pemerintah, menjadi penentu upaya penyelesaian persoalan kekurangan gizi, pelibatan aktif publik termasuk organisasi kemasyarakatan yang berfokus padabpersoalan kesehatan publik dan keterlibatan sektor swasta menjadi kunci penyelesaian masalah.

Perbaikan secara bertahap perekonomian nasional dan peningkatan derajat ekonomi masyarakat akan ikut memperbaiki status gizi masyarakat dari waktu ke waktu (***)