Dia mengatakan saat ini mereka memiliki 10.000 tentara terlatih dan ribuan sukarelawan lokal mulai dari pria 20 sampai 70 tahun dari Panjshir – yang saat ini sedang berlatih di wilayah tersebut.

“Orang-orang di sini dari seluruh wilayah Afghanistan: dari Jalalabad, dari Helmand, di manapun di utara sampai selatan negara ini. Itulah mengapa kami menyebut ini sebuah perlawanan nasional, karena seluruh orang Afghanistan di Afghanistan terlibat dalam perjuangan ini, tidak hanya Tajik dan Panjshir,” jelasnya.

Fetrat juga membantah Panjshir dikepung Taliban. Dengan kondisi geografisnya yang sulit, butuh sedikitnya 14 jam sampai ke perbatasan Panjshir dari provinsi tetangga, dan tidak ada tempat bersembunyi.

“Ketika Taliban mengatakan Panjshir dikepung, itu bohong,” ujarnya.

Walaupun ada optimisme terkait kemampuan Aliansi Utara melawan Taliban, beberapa pengamat situasi di Afghanistan memiliki pemahaman yang berbeda.

Masih ada keraguan terkait kapasitas pasukan Aliansi Utara untuk bertahan melawan Taliban – kelompok itu memiliki cadangan yang lemah dan kurangnya pengalaman tempur, sementara Taliban telah mengambil pelajaran berharga dari kegagalan masa lalu mereka untuk merebut Panjshir.

Ahmad Shah Massoud mendapat dukungan internasional dari Iran dan Amerika Serikat, putranya tampaknya kurang dukungan dari negara asing. Pada 1990-an, hanya Arab Saudi, Pakistan, dan Uni Emirat Arab yang mengakui rezim Taliban. Kali ini, China dan Rusia mengatakan mereka siap bekerja dengan Taliban, sementara Iran dan AS telah menandatangani perjanjian dengan kelompok ekstremis tersebut.

Pada 18 Agustus, Ahmad Massoud Jr meminta bantuan pemerintah Barat untuk melawan Taliban.

Bagi Fahim Fetrat, Taliban tidak berubah sejak 2001, tetapi dia yakin masih ada peluang untuk resolusi damai:

“Kami siap untuk konflik jangka panjang, tetapi kami selalu memilih untuk mencapai tujuan kami melalui cara damai. Tujuan mendiang Ahmad Shah Massoud adalah untuk membangun sistem damai baik di dalam maupun di luar Afghanistan,” jelas Fetrat (*)

Editor Redaksi