Imam Nahrawi
Imam Nahrawi

BERITABETA.COM, Ambon – Upaya mengusut misteri matinya ribuan ikan demarsal yang terdampar di pantai Leitimur Selatan, Kota Ambon, Maluku terus dilakukan sejumlah instansi terkait.

Setidaknya, sudah tiga lembaga resmi menyampaikan hasil kajiannya. Berawal dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Maluku,  Pusat Penelitian Laut Dalam LIPI Ambon dan Balai Karantina Ikan Ambon.

Ketiga lembaga ini, belum bisa memastikan penyebab terjadinya fenomena matinya ribuan ikan jenis demersal itu.  BMKG Maluku melalui Kepala Bidang Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami, BMKG Maluku, Daryono bahkan lebih dulu memastikan, kematian ribuan ikan itu tidak ada hubungan dengan ancaman gempa dan datangnya tsunami.

“Fenomena matinya ribuan ikan di  Ambon bukan pertanda akan terjadi gempa dan tsunami,” kata Kepala Bidang Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami, BMKG Maluku, Daryono dalam rilisnya kepada media di Ambon.

Hal senada juga disampaikan oleh Plt. Kepala Pusat Penelitian Laut Dalam LIPI Ambon Dr. Nugroho Dwi Hananto kepada wartawan di kantornya, Rabu (18/9/2019).

Doktor Geotek  lulusan Institut de Physique du Globe de Paris, France ini juga mamastikan, kejadian yang terjadi di kawasan pantai Leitimur Selatan itu tidak punya kaitan dengan gempa bumi, apalagi tsunami.

Nugroho juga menyampaikan  hasil uji sampel yang dilakukan pihaknya yang meliputi uji fisika (suhu dan tekanan air) tidak ditemukan pengaruh atau hal yang luar biasa.

Demikian juga terkait uji kimia yang dilakukan berupa kandungan nutriet yang meliputi nitrat, fosfat dan amoniak, termasuk kemungkinan terjadinya ledakan (blooming) fitoplankton. “Semuanya normal tidak ditemukan hal yang bisa disimpulkan sebagai penyebab,” tandasnya.

Pihak Balai Karantina Ikan Ambon juga melakukan hal yang sama dengan meniliti fisik ikan yang mati dengan kondisi yang disimpulkan sementara karena lemas, akibat benturan, tapi penyebabnya pun belum terungkap.

Jenis ikan tatu (milicthys niger) yang ditemukan warga mati terdampar di Pantai Desa Hukurila, Kecamatan Leitimur Selatan, Kota Ambon

“Kita telah pemeriksaan secara fisik dimana kita melakukan uji lab pertama ada hubungan penyakit atau tidak, ternyata tidak ada hubungan dengan penyakit,”kata Kepala Balai Karantina Ikan Ambon, Ashari Syarief di Ambon.

Ashari mengungkapkan ribuan ikan tersebut bisa saja mati karena ada benturan sehingga membuat ikan-ikan itu menjadi lemas. Sebab kondisi laut di pantai tersebut sangat bergelombang sehingga dapat memungkinkan adanya benturan. Kabar terbaru yang diperoleh, sampel ikan yang dipakai akan dikirim ke laboratorium untuk diteliti secara forensik terkait bagian-bagian tubuhnya.

Dari sekian banyak penyabab yang diuji, hanya tersisa satu penyebab  lainnya yang sementara dilakukan LIPI Ambon yakni, analisa toksin (racun) pada sampel ikan dengan melihat apakah ada kandungan logam berat di dalam tubuh ikan atau tidak.

“Sampel ikannya sudah dikirim ke Laboratorium Oseanografi  LIPI Pusat di Ancol Jakarta dan mungkin hari ini sudah sampai, “ kata salah satu sumber di LIPI Ambon.

Sementara fakta lain yang dihimpun beritabeta.com, uji sampel yang dilakukan LIPI Ambon mengenai  analisa kandungan toksin berupa logam berat, juga kini menjadi tanda tanya besar. Sebab, jauh sebelum sampel ikan itu diambil untuk di teliti, sejumlah warga di Desa Hukurila, sudah lebih dulu mengkonsumsinya.

Dari testimoni yang disampaikan warga, mereka mengaku tidak merasakan gangguan apapun pada tubuh meraka setelah teranjur mengkonsumsi ikan-ikan yang mati terdampar itu.

Guna mengusut misteri matinya ribuan ikan ini, Kamis (19/9/2019) LIPI Ambon telah menggelar Focus Group Discussion (FGD) dengan mengundang sejumlah pihak terkait yang terdiri dari akademisi Unpatti, Balai Karantina Ikan, LIPI Ambon, Dinas Perikanan dan Kelautan dan sejumlah pihak terkait.

“Ada tim kecil yang dibentuk dan bersisi perwakilan lemabaga-lembaga ini untuk lebih jauh mengusut penyebab fenomena kematian ribuan ikan ini. Intinya FGD bertujuan untuk menyatukan persepsi agar informasi yang disampaikan tidak membuat resah masyarakat,” tandas salah satu sumber kepada beritabeta.com, Kamis (19/9/2019).

Fenomena yang Sama di Bulukumba

Dari data yang dihimpun beritabeta.com menyebutkan terdapat tiga jenis ikan demersal yang dominan ditemukan mati terdampar di Pantai Hukurila, ketiga jenis ikan itu masing-masing, ikan tatu (milicthys niger), ikan kuli pasir (naso flamingi) dan ikan duan-daun (hemitaurichtys).    

Jenis ikan tatu (milicthys niger) yang ditemukan nelayan di Kecamatan Bontobahari, Kabupaten Bulukumba mati dan terdampar di bibir pantai, Rabu (3/4/2019).

Fenomena matinya ribuan ikan dengan jenis tatu (milicthys niger)  ini juga pernah dilaporkan terjadi di  Kecamatan Bontobahari, Kabupaten Bulukumba, Provinsi Sulawesy Selatan, pada tanggal 3 April 2019 lalu.

Seperti dikutip dari rakyatku.com, nelayan di Kecamatan Bontobahari, juga digegerkan banyaknya ikan mati dan terdampar di bibir pantai. Bahkan di Bulukumba, terdapat beragam jenis ikan, termasuk hiu yang jumlahnya diperkirakan ratusan ekor itu tergeletak di sepanjang garis pantai di Kecamatan Bontobahari.

Kematian ikan-ikan ini ditemukan di sejumlah lokasi yang meliputi Pantai Bira dan Bira Timur, Pantai Bara, Pulau Kambing, dan Pulau Liukang, serta Pantai Kasuso, Kecamatan Bonto Bahari.

“Kami tidak tahu persis penyebabnya, tetapi kami curiga ini akibat limbah dari tambak udang. Karena memang banyak tambak di perairan ini,” kata Rudi, salah seorang warga Desa Bira saat itu.

Warga setempat juga mengaku bahwa belakangan ini tidak ada kapal tanker yang melintas. Tidak ada tumpahan minyak ke laut yang dapat menyebabkan ikan mati.

“Itu sudah beberapa hari. Saya memantau tidak melihat ada kapal besar yang melintas. Jadi bisa saja itu akibat buangan limbah dari tambak udang,” jelas Jufri, warga Bira lainnya.

Ironisnya, hingga kini misteri matinya ratusan ikan itu tidak diketahui penyebab. Dinas Perikanan Bulukumba juga belum bisa memberikan konfirmasi penyebabnya. (BB-DIO)