Orang Rimba dalam Pusaran Perubahan Iklim

Tumenggung Nyenong menceritakan jika dahulu, madu adalah bahan pangan sekaligus sumber ekonomi Orang Rimba. Dulu setiap tahun, kala musim tamanam hutan berbunga, pohon-pohon sialang (pohon tempat lebah hinggap dan bersarang) dipenuhi oleh sarang-sarang lebah yang menyimpan madu yang dalam bahasa rimba di sebut babing.
“Zaman tekelah bambing rapa yoya benyok pado sialong-sialong di dalam rimba. Namun kini la hopi lagi, la jerong sialong kini ado rapanye (pada waktu dulu banyak babing lebah di pohon sialang dalam rimba. Namun kini sudah jarang pohon sialang ada madunya),” kata Nyenong.
Menurut Nyenong hilangnya lebah di hutan disebabkan musim bunga tidak lagi sama. Hujan panas yang tidak lagi menurut musimnya telah menyebabkan bunga-bunga kayu juga tidak lagi banyak.
“Iyoi karena bunga-bunga di rimba kini la piado lagi jadi rapa jugo pindok kesanoi. Piado makononnye (ini karena bunga di rimba sudah tidak ada, jadi lebah juga tidak ada lagi di sana,”kata Nyenong.
Sedikitnya bunga di hutan, tidak hanya menghilangkan madu, namun juga kehilangan musim buah. Biasanya Orang Rimba akan berpesta kala musim buah tiba, namun beberapa waktu belakangan ini musim buah sudah semakin jarang, tetap ada yang berbuah namun tidak lagi lebat sebagaimana dulu.
Tidak hanya itu, kondisi sungai juga makin surut. Sungai Jelutih salah satunya, dulu cukup lebar sekitar 2 meter dan dalam, sedada orang dewasa. Kini airnya tinggal sedikit dan semakin dangkal.
“Aik sungai jugo kini la makin kecik dan hopi lagi delom. Jadi ikan-ikan yoya habis hilang. Nakop kini la jerong bulih (Ai sungai juga sudah semakin kecil dan tidak lagi dalam. Jadi ikan-ikan di sungai juga hilang. Menagkap ikan di sungai kini sudah sangat jarang dapat,”kata Warai (30) istri Tumenggung Ngelembo.
Dengan semakin sulitnya ikan di sungai, para perempuan rimba terpaksa untuk memakan hewan air lainnya seperti katak dan siput. Kondisi sulit yang dialami suku-suku di pedalaman ini, ditengarai sebagai dampak perubahan iklim. Ibaratnya kini, suku ini dua kali mengalami kesulitan.
Pertama ketika hutannya hilang kini mereka terkena dampak ikutan perubahan iklim yang disebabkan oleh hilangnya hutan.