Oleh: Hasbollah Toisuta (Rektor IAIN Ambon)

KEHIDUPAN manusia tidak selamanya berjalan linier. Apa yang dimaknai dengan kehidupan selalu membawa dinamika. Pasang surut dan pasang naik adalah merupakan bagian inheren dari hidup itu sendiri. Manusia lahir, tumbuh dan berkembang menjalani serial panjang hidupnya selalu berhadapan dengan masalah dan tantangan. Bahkan boleh dikatakan hidup adalah proses pemecahan masalah. Hakikatnya kita bergerak dari satu masalah kepada masalah yang lain. Begitu seterusnya.

Menghadapi masalah yang tidak pernah sepi itu, manusia dibekali Allah dengan tiga potensi dasar sebagai intrumen guna mengelola hidupnya. Ketiga potensi tersebut adalah; instink (gharizah – naluri), rasio atau akal dan Agama. Pertama Instink atau gharizah sering juga disebut naluri atau pembawaan lahir.

Instink atau gharizah selain diberikan Allah kepada manusia, instink juga diberikan kepada makhluk hidup lain seperti hewan. Instink atau gharizah diberikan kepada hewan adalah untuk melindungi diri dari ancaman alam atau ancaman manusia. Kedua, rasio atau akal.

Manusia selain dibekali dengan instink sebagaimana halnya makhluk hewan, manusia juga dibekali potensi fikir yang disebut akal. Dengan akal ini manusia dapat membedakan mana yang baik dan mana yang buruk, mana yang benar dan mana yang salah, mana yang haq dan mana yang bathil. Bahkan dengan potensi akal ini pula manusia dapat mengeksplorasi dan mengeksploitasi alam (baca: menaklukan hukum-hukum alam) untuk kepentingan kemanusiaan itu sendiri.

Yang ketiga adalah potensi religius atau kesadaran untuk beragama. Naluri beragama (baca: ber-Tuhan) sesungguhnya melekat pada setiap manusia. Naluri inilah yang disebut dalam Al-quran sebagai perjanjian primordial antara Allah dan hamba di alam arwah, bahwa sebelum dihadirkan ke bumi manusia di alam ruh telah mengambil perjanjian hanya untuk menyembah Allah “… alastu birobbikum, qaalu balaa syahidna…” (…bukankah Aku ini Tuhanmu? Benar Engkau Tuhan kami, kami telah bersaksi…).

Tentang kesadaran beragama ini, menarik untuk dikutip di sini pandangan Kalvin, seorang Kristen progresif, “bahwa jika anda memperhatikan bekerjanya hukum-hukum alam, maka pasti akal anda dipaksakan untuk mempercayai adanya Tuhan”.

Ilustrasi doa

Alberth Einstein setelah sibuk dengan berbagai eksperimennya di dunia saintis, dia kemudian jeda dan berkata, “Saya harus bisa menghentikan seluruh eksperimen sains agar bisa memberi ruang di hati saya untuk percaya adanya Tuhan”

Jadi dengan demikian manusia hidup dengan ketiga potensi dasar tersebut. Ketiga potensi inilah yang akan diupgred selama puasa Ramadhan ini. Maka jika selama11 bulan terakhir kita sibuk menjalani aktifitas rutinitas duniawi, bulan Ramadhan hadir untuk menginterupsi kita agar sejenak kita jeda. Mencoba melakukan introspeksi (hadap diri).

Kesibukan dengan urusan duniawi memang acap kali menggoda kita untuk keluar dari orbit kemanusiaan kita. Kerena itu bulan Ramadhan semestinya memberi pembelajaran bagi kesadaran diri untuk mengelola dimensi insaniyah kita secara paripurna. Karena pada dasarnya jati diri manusia – dengan ketiga potensi dasarnya tersebut – adalah makhluk yang baik dan paripurna (ahsani taqwim – fitrah).

Hanya saja seiring perjalanan waktu, interaksi sosial, lalulintas politik, dan kebutuhan ekonomi terkadang lalu mendistorsi jati diri manusia yang fitri itu terjerembab ke dalam bujukan nafsu yang kemudian menjatuhkan martabat kemanusiaan kita.

Sebagai misal, syahwat berkuasa sering membuat kita tega menindas orang lain, menyebar fitnah dengan ujaran-ujaran kebencian. Nafsu menumpuk harta kekayaan selalu membuat kita bisa memangsa sesama, melukai hati para fuqara dan menindas mereka yang berkubang derita. Nafsu akan popularitas diri sering mengakibatkan terputusnya tali suci silaturrahim dalam keluarga dan antar sesama.

Sadar atau tidak semua sifat yang dibonceng oleh egoisme tersebut telah mereduksi nilai kemanusiaan kita pada titik nadir. Jatuh menjadi makhluk dengan kualitas rendah (asfala saafiliin). Perspektif ini menunjukan bahwa kita sebatas menggunakan potensi gharizah (naluri kebinatangan) dan rasio secara tidak proporsional.

Maka hadirnya Ramadhan sejatinya benar-benar kita optimalkan sebagai oase (ruang spiritual) untuk lebih intens kita melakukan “riyadhah” atau perjuangan menahan diri, mengendalikan ego, menaklukan kecenderungan-kecenderungan diri yang destruktif.

Apa yang disebut “muhasabah” (introspeksi) sesungguhnya adalah suatu mekanisme olah jiwa (qalbu) terhadap ketiga potensi dasar dimaksud. Yaitu ketika kita berusa untuk melepaskan diri dari gravitasi-gravitasi duniawi dan kembali pada dan atau berdialog dengan diri sendiri.

Kita kembali mereview seluruh perjalanan hidup kita yang lalu. Dengan demikian mereka yang bersungguh-sungguh memaknai hakikat puasa Ramadhan seperti ini kelak akan memiliki kearifan tertinggi (hikmah al-muta’aliyah), yang mana perubahan (transformasi diri) terjadi secara signifikan dengan menempatkan kekuatan hati nurani (potensi religiositas) sebagai pemadu utama dalam kehidupan. Wallahu’alam. (***)