BERITABETA.COM, Ambon – Aksi kemanusiaan terhadap korban gempa bumi di Pulau Ambon terus mengalir pascagempa berkekuatan 6,5 magnitude melanda tiga pekan lalu. Sabtu (19/10/2019), penyaluran bantuan juga dilakukan puluhan alumni SMP Negeri 2 Ambon 1987 yang tersebar di sejumlah daerah di Indonesia.

Meneriknya, bantuan yang disalurkan komunitas alumni SMP 2 Ambon angkatan 1987 ini, menyasar sejumlah kebutuhan warga pengungsi yang selama ini terabaikan.  

Kepada wartawan beritabeta.com usai kegitan penyaluran bantuan, Ketua Alumni SMP 2 Ambon angkatan 1987, Djufry Muhrim mengatakan, bantuan yang disalurkan pihaknya berisi sejumlah paket yang dikemas berbeda dengan bantuan-bantuan sebelumnya  yang disalurkan sejumlah pihak.

Antaranya, meliputi tiga jenis bantuan kebutuhan warga yang disalurkan di tiga desa berbeda yakni, Desa Morela, Kecamatan Salahutu, Dusun Banda, Desa Suli dan Desa Liang, Kecamatan Salahutu, Kabupaten Maluku Tengah.

Penyaluran bantuan kepada warga pengungsi di Dusun Banda, Desa Suli, Kecamatan Salahutu yang dilakukan puluhan alumni SMPN 2 Ambon angkatan 1987

“Kita menginventarsisasi kebutuhan warga pengungsi, ternyata bukan saja sembako yang dibutuhkan mereka. Makanya bantuan yang kita berikan,  terdiri dari tiga jenis bantuan sesuai kebutuhan pengungsi,”kata dia.

Dijelaskan, paket bantuan yang disalurkan, selain berupa sembako, ada juga peralatan mandi, jerigen air, tenda, lampu penerangan (petromax) dan juga paket saket berisi snack dan minuman kepada ratusan anak korban gempa di lokasi pengungsian.

Djufry yang didampingi Sekretaris Alumni SMP 2 1987 Viana Kakerissa dan sejumlah rekannya  menjelaskan, penyaluran bantuan ini dilakukan tak lain sebagai bentuk kepedulian dan rasa kemanusian yang lahir karena keterpanggilan dari semua alumni SMP 2 Ambon angkatan 1987.

“Paket-pekat bantuan yang kami salurkan murni berasal dari sumbangan anggota alumni yang kami himpun, kemudian kami salurkan dengan melihat kebutuhan yang harus dipenuhi,” tandasnya.

Menurut Djufry, penyaluran bantuan yang dilakukan pihaknya, selain sebagai bentuk kepedulian juga dilakukan sebagai upaya untuk mendorong pemerintah dari beberapa sisi dalam hal penanganan korban bencana gempa di Pulau  Ambon dan sekitarnya.

Pertama, kata dia, dari sisi distribusi pihaknya menekankan aspek pemeretaan yang harus diutamakan. Sebab, dari hasil kunjungan ke titik-titik pengungsi, ditemukan banyak bantuan yang disalurkan, namun belum merata.

Kemudian, yang kedua, pihaknya juga melihat masalah diversifikasi jenis bantuan yang tidak ada. Padahal, banyak warga yang menjadi korban gempa bumi itu, bukan saja membutuhkan sembako, tapi banyak  kebutuhan lain yang belum mereka miliki.

“Saya memberikan contoh seperti jerigen yang kami salurkan. Ternyata itu sangat bermanfaat sebagai wadah penampung air bagi mereka. Dan kebutuhan lainnya adalah alat penerangan. Makanya, bantuan yang kami bagikan sangat membantu karena itulah yang dibutuhkan mereka,” tandasnya.

Selain paket bantuan barang, Alumni SMP Negeri 2 Ambon angkatan 1987 ini juga melakukan kegiatan trauma healing kepada ratusan anak pengungsi di Dusun Banda, Desa Suli yang dipandu anggota alumni yang juga aktivis perempuan Maluku, Nancy Purmiasa.  

Nancy menjelaskan, kegiatan trauma healing dilakukan sebagai bentuk pemulihan rasa takut yang dialami anak-anak pengungsi pascagempa terjadi. Dengan harapan selain bantuan barang yang diterima, kondisi psikologis anak-anak pengungsi juga dapat terpulihkan.

Untuk itu, kata dia, rasa takut yang berlebihan pascagempa sangat mungkin dialami  oleh anak-anak yang merasakan geteran gempa bertubi-tubi selama hampir satu bulan ini, sehingga memang sangat dibutuhkan pemulihan psikososial dan trauma healingbagi anak-anak dan bisa saja hal ini juga menjadi kebutuhan orang dewasa yang terapar trauma akibat gempa.

Kegiatan trauma healing kepada anak-anak pengungsi di Dusun Banda, Desa Suli

“Memang untuk membuktikan bahwa mereka itu trauma harus ada pemeriksaan lebih lanjut, namun rasa ketakutan adalah hal yang pasti terjadi, makanya kegiatan trauma healing merupakan satu bentuk kegiatan yang sangat diperlukan,” urai Nancy.    

Selian itu, Djufry juga menambahkan, dalam pantauan yang dilakukan pihkanya, ternyata banyak kendala yang dihadapi warga pengungsi di lapangan. Misalnya, yang ditemukan di lokasi pengungsian Desa Liang, disana ternyata alat penerangan itu sangat dibutuhkan. Kemudian juga masalah sanitasi berupa MCK, yang tentunya masih membutuhkan perhatian lebih jauh.   

“Rata-rata mereka menggunakan penerangan dari lilin. Ada juga yang menggunakan lampu cas. Sedangkan warga yang memiliki genset juga disewakan kepada warga yang lain. Apalagi soal sanitasi, saya kira ini hal-hal yang perlu disasar agar warga bisa terbantu di lokasi-lokasi pengungsian,” bebernya.

Olehnya itu, Djufri dan sejumlah rekannya yang tergabung dalam alumni SMP Negeri 2 angkatan 1987 ini berharap kedepan, penanganan warga korban gempa yang ada di sejumlah lokasi pengungsian dapat tertangani  dengan maksimal, baik  oleh pemerintah dan juga stakeholder terkait.

“Saya kira harapan ini mewakili kami semua yang ada disini, karena sudah tiga pekan bencana ini berlalu, tapi masih saja kita temukan kesenjangan yang terjadi dari sisi penanganan warga korban gempa yang ada di lokasi –lokasi pengungsi,” tutupnya (BB-DIO)