BERITABETA.COM – Satu pertanyaan kenapa orang Ambon, Maluku rata-rata bersuara merdu dan jago bernyanyi? Jawaban atas pertanyaan ini mungkin karena sejarah musik itu sendiri lahir di tanah yang dikenal dengan julukan tanah raja-raja ini.

Salah satu jenis musik yang disebut lahir karena berakar di Maluku adalah Keroncong. Akar musik Keroncong sudah ada di Indonesia sejak abad ke-16 yang saat itu disebut dengan musik Fado.

Dari catatan sejarah yang dikutip beritabeta.com menyebutkan, musik Fado masuk ke Indonesia sekitar tahun 1512.  Jenis musik ini pertama masuk bersamaan dengan Ekspedisi Portugis yang pimpinan Alfonso de Albuquerque saat datang ke Malaka dan Maluku tahun 1512.

Dari catatan Wikipedia disebutkan,  Alfonso de Albuquerque merupakan pelaut Portugis. Ia masuk bersama rombongan masuk ke Maluku dengan membawa musik yang diberinama Fado. Musik Fado adalah jenis musik rakyat Portugis bernada Arab (tangga nada minor), karena orang Moor Arab pernah menjajah Portugis/Spanyol tahun 711 – 1492.

Walaupun masa jaya Portugis mulai melemah di Indonesia, musik ini tidak lantas hilang begitu saja. Para budak di Maluku kala itu mulai menyerap musik tersebut dan memainkannya di daerah mereka.

Lagu jenis Fado masih ada di Amerika Latin (bekas jajahan Spanyol), seperti yang dinyanyikan Trio Los Panchos atau Los Paraguayos, atau juga lagu di Sumatra Barat (budaya Arab) seperti Ayam Den Lapeh.

Fado inilah yang menjadi akar dari musik Keroncong yang lahir di Indonesia dan dikenal sebagai musik asli Indonesia.

Disebutkan sebuah kisah, pada waktu tawanan Portugis dan budak asal Goa (India) di Kampung Tugu dibebaskan pada tahun 1661 oleh Pemerintah Hindia Belanda (VOC), mereka menyanyikan lagu Fado yang pada tangga nada mayor.

Dari catatan Gerry Ardian di www.cultura.id menyebutkan, dalam perkembangannya, musik ini mulai dimasukan dengan berbagai macam unsur nusantara, seperti gamelan dan juga suling. Musik Keroncong pun mulai banyak dikenal di seluruh dataran Indonesia, hingga pada akhirnya mulai kembali redup sekitar tahun 1960-an.

Redupnya musik Keroncong karena mulai mendominasinya kultur musik popular di dunia, seperti Pop dan juga Rock. Munculnya The Beatles menjadi salah satu faktor cepatnya persebaran musik populer ke seluruh penjuru dunia, termasuk Indonesia.

Selain adaptasi dari musik Fado yang dibawa bangsa Portugis di abad ke-16, musik Keroncong sendiri baru secara resmi dikenal di Indonesia pada tahun 1880. Perubahan yang terjadi dari pertama kali musik Fado masuk ke Indonesia adalah nada-nada yang digunakan.

Perpindahan nada dari minor ke mayor mulai terjadi ketika pergantian masa dari Portugis ke Pemerintah Hindia Belanda. Pada masa itu, para pegiat musik Fado harus menyanyikan lagu-lagu mereka di dalam Gereja Protestan dan secara tidak langsung nada yang biasa mereka gunakan pun berubah menjadi mayor.

Pengaruh lainnya datang dari musik Hawai yang kental dengan nada mayor, dan masuk ke Indonesia hampir bersamaan dengan munculnya musik Keroncong.

Namun, Bing Leiwakabessy, musisi Hawaiian sekaligus maestro gitar steel mengatakan bahwa musik Hawaiian jika diruntut, justru berakar dari Maluku. Hal ini membuktikan bahwa terdapat sejarah musik yang kuat di tanah Maluku.

“Musik Hawaiian itu berasal dari Maluku, itu musik dari Maluku. Waktu dulu, zaman orang Eropa mencari cengkeh dan pala (rempah-rempah), orang Eropa datang ke Ambon. Orang-orang Ambon lihat orang Eropa bermain musik, tetapi tidak mengikuti (jenis musik dan cara orang Eropa bermain musik), tetapi kami bikin instrumen musik sendiri, dari bambu dengan senar dari pohon aren,” kata pemusik handal asal Maluku ini.

Perkembangan Musik Keroncong

Pada tahun 1880 lah musik Keroncong baru benar-benar hadir dan dikenal sebagai identitas musik dari Indonesia. Salah satu alasannya adalah karena alat musik yang digunakannya adalah alat musik yang kental kaitannya dengan budaya Indonesia, seperti rebab, suling bambu dan juga set gamelan.

Dari tahun 1880, menurut Sunarto Joyopuspito, musik Keroncong sudah melewati 4 fase, yaitu Keroncong tempo doeloe (1880 – 1920), Keroncong abadi (1920 – 1960), Keroncong modern (1960 – 2000) dan Keroncong millennium (2000 – saat ini).

Sampai saat ini, musik Keroncong masih terus diperjuangkan oleh beberapa musisi agar eksistensinya tidak kalah tertimpa oleh jenis-jenis musik lainnya. Ada beberapa nama besar musisi Indonesia yang memilih Keroncong sebagai musik utama mereka, atau pun sebagai salah satu jenis musik yang mereka gunakan.

Sebut saja, Bram Titaley, atau dikenal sebagai Bram Aceh. Putra asal Maluku ini lahir di Banda Aceh, 4 Maret 1913. Kemudian, Gesang, Waldjinah, Mus Mulyadi, Hetty Koes Endang, Emilia Contessa, Indra Utami Tamsir, Sundari Soekotjo, dan juga Bondan Prakoso.

Mereka  merupakan sedikit dari beberapa musisi Indonesia yang turut mengenalkan musik asli Indonesia ini, bahkan sampai ke penjuru dunia (BB-DIO)