Penulis saat di pertanian tulip petani di Amsterdam
Penulis saat di pertanian tulip petani di Amsterdam

Catatan : Mary Toekan Vermeer

"Jangan pernah ragu akan rezekimu di Ramadhan, sebab rezeki setiap manusia, telah di jatah Allah setiap hari. Meskipun kalian berkutat dari pagi hingga malam, bahkan kadang waktu sholat terlewati, besar rezekimu telah ditakar. Tak akan bertambah. Tak akan berkurang,"

Tinggal satu pintu maghrib lagi, di situ akan kita temukan bulan suci, bulan yang terpilih diantara sebelas bulan. Para ulama mengandaikannya laksana Yusuf AS diantara sebelas saudara - saudaranya.

Hari itu, di bulan Juli sepuluh tahun lalu. Tahun pertama aku di Negeri Seribu Kincir. Ramadhan datang di puncak musim panas. Artinya jendela fajar hingga pintu maghrib  berjarak 19 jam.

Tiga hari jelang Ramadhan, aku sedang duduk di pelataran sebuah restaurant. Berpikir keras, bagaimana mungkin aku bisa berpuasa ?

Jujur, ada enggan bertahta di hatiku. Aku yang masih terus saja menikmati agenda dari cafe ke cafe, dari pesta ke pesta. Bersama teman - teman baruku, kuhabiskan waktu bernyanyi dan berdansa, walau pesan ibu yang baru saja pergi, begitu kuat ku simpan di benakku.

Di pelataran itu, mozaik langit di ufuk Barat menambah romantis makan malam kami. Ku lirik jam tanganku : " whattt ? ".  Setengah sebelas malam,  fix, aku tak akan mampu menjalankan puasa di negeri ini.

"Kamu pasti bisa, nak !", begitu suara tanteku di seberang sana menyuntikkan semangat padaku. Beliau sudah lebih dulu menghuni negeri ini puluhan tahun lalu. Tante Banuna Sadhinoch-Pelupessy, saudara dari jalur papa.

Walau dengan nada sedikit bercanda, aku menangkap keseriusan dalam suara tante. Ku iyakan saja, walau biduk hati tak tentu arah dengan berjuta pertanyaan menghantui pikiranku. Apa bisa ? Aku yang masih mengejar gemerlap dunia.

Senja datang masih membawa pertanyaan. Namun kuikat niatku di ujung iman tertinggi, ku tutup semua jalan licin yang bisa menggelincirkan, berharap ada mukjizat.

Bismillah, niat puasa sudah terucap. Jika tak mampu, aku akan berbuka seperti waktu di Indonesia sudah itu lanjutkan sampai maghrib di jam setengah sebelas malam.

Tak ada mesjid terdekat dari rumahku. Setelah Isya, aku duduk terpekur. Ku sebut Allah..Allah.. Allah !! Bantu aku. Aku hanya ingin berpuasa di Ramadhan ini. Izinkan aku berjalan di atas kebenaran jalan-Mu.