Tantangan dan Ukuran Keberhasilan Calon Kepala Daerah di Maluku

Isu besar Maluku saat ini dan kedepan adalah, masalah Inflasi, Pengangguran, Kemiskinan dan Pertumbuhan. Keempat isu besar ini akan memberikan dampak turunan kepada masalah-masalah sosial ekonomi lainnya yg berkaitan erat dengan ke empat isu besar di atas.
Pertumbuhan ekonomi tidaklah cukup untuk menyelesaikan masalah inflasi, pengangguran dan kemiskinan. Karena itu butuh pemikiran ekstra untuk menemukan solusi konkrit atas persoaln inflasi, pengangguran dan kemiskinan.
Masalah investasi dan industrialisasi menjadi salah satu solusi namun tidak semudah yang kita cakapkan atau didebatin dalam berbagai diskusi. Investasi dan industrialisasi harus dapat direncanakan dengan cermat karena harus memperhitungkan banyak faktor.
Salah merencanakan makar investasi dan industrialisasi bukan membawa berkat tetapi bencana jangka panjang bagi rakyat Maluku. Jadi saya juga berharap JAR dan FCT dan siapapun dia melalui tim pemenangan untuk selalu berhati-hati dalam mengkampanyekan masalah investasi dan industrialisasi di Maluku ke depan nanti.
Kenaikan IPM Maluku tahun 2022 sebesar 70,22% itu belum bisa dijadikan patokan keberhasilan karena variabel pembentuk IPM itu sendiri masih jauh dari harapan kita semua, diantaranya RLS Maluku tahun 2022 itu tercatat 10,19 tahun naik 0,16 point dari tahun 2021 yg tercatat sebesar 10,03 tahun.
Angka ini sangat miris bagi Maluku, demikian juga dengan HLS Maluku tahun 2022 tercatat 14,00 tahun, sedikit lebih besar dar dari tahun 2021 yaitu 13,97 tahun atau naik hanya 0,03 poin. Angka ini juga menjadi keprihatinan kita sebab itu tidak ada alasan yg kuat untuk kita berbangga diri dengan IPM 70,22%
Tantangan berat kepala daerah Gubernur, Bupati dan Walikota bahkan kepada Balon kepala daerah 2024 (JAR, FCT dll) adalah bagaimana mengurangi ketergantungan Maluku terhadap transfer pusat sebagai andalan pembiayaan pembangunan.