Pemandangan Kota Ambon dari ketinggian (Foto : Istimewa)
Pemandangan Kota Ambon dari ketinggian (Foto : Istimewa)

BERITABETA.COM, Ambon -  Wilayah Kota Ambon diprediksikan pada 3 dekade (30 tahun) mendatang akan mengalami krisis air bersih. Ancaman ini menyusul makin meluasnya kawasan pemukiman penduduk yang memicu berkurangnya wilayah resapan air di Kota Ambon.  

Beberapa wilayah di Kota Ambon yang menjadi kawasan resapan air (aquifer) itu, sudah beralih fungsi, misalnya  wilayah  Gunung Nona, Halong dan Air Besar.

"Puluhan tahun lalu, kawasan Gunung Nona pernah menjadi kawasan konservasi. Tapi kini, kawasan itu sudah dipenuhi permukiman,"ungkap Kepala Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Maluku, Roy Syauta dalam Dialog Tanggap Bencana yang digelar RRI Ambon, di Kantor Sinode Gereja Protestan Maluku (GPM), Kamis pagi (3/6/2021).

Menurut Syauta,  pemberian izin pembangunan yang tak terkontrol telah menjadi penyebab utama tergerusnya kawasan lindung di beberapa wilayah. Untuk mengatasi hal ini, maka Pemerintah Kota (Pemkot) Ambon, diharapkan agar memiliki Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) yang bisa dijadikan pijakan  pengembangan Kota Ambon di masa mendatang.

Di dalam RTRW, kata dia,  telah diatur mana daerah yang diperuntukkan bagi kawasan permukiman, perkantoran dan niaga, ruang terbuka hijau, serta daerah resapan air.

"Kota yang baik tentu saja adalah kota yang dibangun mengacu pada RTRW,"jelasnya

Fakta adanya ancaman krisis air bersih ini,  juga pernah diungkap dalam sebuah penelitian yang dituangkan dalam tesis yang disusun mahasiswa S2 Universitas Gadjah Mada , Mildred Muriel Aponno tahun 2013 silam.

Dalam tesis dengan judul ‘Kajian Pengelolaan Sumberdaya Air untuk Pemenuhan Kebutuhan Air Bersih Daerah Konsesi PT. Dream Sukses Airindo,  Kota Ambon,” itu Aponno dengan gamblang menjelaskan  terdapat tiga faktor  utama yang menjadi kendala pelayanan PT. DreAm Sukses Airindo (DSA) sebagai perusahaan pemasok air bersih di Kota Ambon.

Pertama, pertambahan penduduk yang mencapai rata-rata 1,28% per tahun pada daerah tangkapan air. Kedua, sikap yang tidak menghargai lingkungan dari masyarakat sekitar daerah sumber air. Ketiga, kebutuhan akan air meningkat sedangkan potensi ketersediaan air secara keseluruhan menurun.

Dalam penelitian yang dilakukan, dimulai dengan menghitung proyeksi pertambahan penduduk ke depan untuk mendapatkan kebutuhan air sampai dengan 5 tahun mendatang.

Selanjutnya menganalisis ketersediaan air dari ke 7 sumber mata air untuk mendapatkan debit andalan 90% setiap sumber mata air, dengan menganalisis kebutuhan dan ketersediaan air bersih. Kemudian melakukan imbangan air untuk mengetahui apakah daerah konsesi mengalami surplus atau defisit.

Penelitian juga mengkaji pengelolaan PT. DSA untuk mengetahui apakah air bersih yang selama ini didistribusikan memerlukan optimasi alokasi air atau perlu mencari sumber air baru dengan menggunakan metode Analitical Hierarchy Process (AHP).

Hasil yang diperoleh dalam penelitian tersebut  menunjukkan jumlah pemakaian air bersih di keenam daerah konsesi adalah rata-rata 100 liter/jiwa/hari sedangkan kebutuhan air bersih untuk 5 tahun mendatang tidak dapat terpenuhi karena ketidakseimbangan antara ketersediaan yang ada.