Ilustrasi : Malam Lailatul Qard
Ilustrasi : Malam Lailatul Qard

Kita diberi 12 bulan perjalanan waktu setahun. Dalam perjalanan waktu itu Allah beri puncak kebaikannya dalam Ramadhan. Dan di dalam Ramadhan ini ada satu malam dalam bidikan seluruh umat muslim, yaitu Lailatul Qadr.

Bagaimana membidik agar tepat di jantung lailatul qadr ?

Rasulullah SAW telah memberi tips agar lailatul qadr tak lari dari frame bidikan mata hati dengan hadits yang sangat akrab di telinga - telinga kita.

" Carilah malam lailatul qadr di malam - malam ganjil dari sepuluh malam terakhir di bulan Ramadhan."  (HR: Bukhari).

Kini kita telah berada di pelataran sepuluh hari terakhir itu. Rasulullah dan para sahabat menikmati jamuan istimewa ini dengan keta'atan i'tikaf, memutus komunikasi dengan orang - orang di sekitarnya kecuali hanya pada sang Khalik.

Tak bisakah kita memastikan sisa malam - malam ini berdiam diri ?

Temans,  Benamkan dirimu dalam sujud - sujud panjang, menderaskan bacaan Al-Qur'an, menjalin rasa dengan Allah, tenggelam dalam lafafz - lafadz cinta yang terus dialirkan hitungan detak jantung tanpa henti sepanjang malam - malam istimewa yang sebentar lagi pergi meninggalkan kita. Maka pastikan lailatul qadr masuk dalam bidikan anak panah kita dengan lafadz cinta pada Allah SWT.

Semoga kita diizinkan membawa pulang hasil buruan di sepuluh malam - malam ini, dan menyediakannya dalam jamuan istimewa bersama Allah SWT di timbangan hari penentuan, tumpukan amal kebaikan yang menyaingi usia umat nabi - nabi sebelumnya.

" Dan Kami akan tegakkan timbangan yang adil pada hari Kiamat, sehingga tidak seorang pun yang dirugikan walaupun sedikit. Jika amalan itu hanya seberat biji sawipun, pasti Kami akan mendatangkan (pahala)nya. Dan cukuplah Kami sebagai pembuat perhitungan.” ( QS : Al-Anbiya’ 21: 47 ).

اَللَّهُمَّ اِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّى Allahumma innaka 'afuwwun tuhibbun 'afwa fa'fu 'annii...

"Ya Robbi, Engkau Maha Pema'af dan Engkau mencintai orang yang meminta ma'af. Aku mohon ma'af kepada-Mu, karenanya ma'afkanlah aku." Wallaahu a'lam bishowab (*)

Geldrop, 24 Ramadhan 1442 H.