Ilustrasi : Malam Lailatul Qard
Ilustrasi : Malam Lailatul Qard

Catatan : Mary Toekan Vermeer    

Dr. Abdul Basit Muhammad, seorang ilmuwan Mesir sekaligus Kepala Lembaga Mukjizat Ilmiah Al-Quran dan Sunnah  menjelaskan bahwa fenomena lailatul qadr sebenarnya sudah dapat dijelaskan secara ilmiah sejak 10 tahun lalu.

Fenomena ini diungkap oleh salah satu ilmuwan Badan Antariksa Amerika (NASA) bernama Karnar yang akhirnya tersapa hangatnya hidayah Islam karena penelitiannya.

Ia menemukan kebiasaan 10 ribu bintang dan 20 ribu meteor yang selalu menabrak bumi setiap hari, malam itu berhenti saling menabrak di penghujung bulan yang dinamakan umat Islam bulan Ramadhan.

Kejadian luar biasa ini diungkap dalam wawancaranya dengan koran Mesir, Delegation, yang akhirnya membuatnya tak mampu menolak kebenaran Islam dan melafadzkan dua kalimah syahadat.

Sebagaimana kalimat Rasulullah SAW :  " Dari Abu Hurairah RA, bahwa Rasulullah bersabda, usia umatku ( umur berkisar ) antara 60 sampai 70 tahun. Tidak banyak diantara mereka melewati ( angka ) itu." ( HR : At - Tirmidzi )

Dan kalimat ini terbukti dengan wafatnya Rasulullah SAW dan tiga Khulafaur Rasyidin, Abubakar, Umar dan Ali Radiayallahu 'anhum dalam usia 63 tahun. Hanya Utsman RA yang wafat di umur 82 tahun.

Karena pendeknya usia umat Rasulullah SAW dibanding dengan usia usia manusia sebelumnya yang mencapai seribu tahun, maka Allah menghadiahkan umat Muhammad SAW dengan malam seribu bulan.

Apa maksudnya ?

Ya...sebab di malam lailatul qadr ini, Allah menginginkan umat Islam dapat melipatgandakan usia kebaikan hingga melebihi seribu bulan. Bukankah panjang usia di dunia itu tak akan berpengaruh dalam timbangan di yaumil mahsyar kecuali hanya amal - amal kebaikan dan keburukan kita ?

Setiap orang akan diminta pertanggung jawaban tentang umur yang dianugerahkan Allah kepadanya, sebagaimana kalimat Rasulullah SAW :

" Tak akan bergeser kedua kaki manusia pada hari kiamat sampai ia selesai ditanya empat perkara. Tentang umurnya dihabiskan untuk apa, tentang masa mudanya dipergunakan untuk apa, tentang harta untuk apa dan dari mana diperolehnya dan tentang ilmu apakah sudah diamalkannya." ( HR : At - Tirmidzi ).

Umur manusia ini hanyalah tumpukan hari hari sepanjang usia. Ketika satu hari berlalu, maka berlalu pula umur kita bersama perginya matahari senja di pintu maghrib. Apakah kita sudah mempersiapkan bekal di akhir lembar tumpukan hari - hari itu ?

Di awal surah Al - Baqarah, Allah sudah memberitahukan, ذَٰلِكَ ٱلْكِتَٰبُ لَا رَيْبَ ۛ فِيهِ ۛ هُدًى لِّلْمُتَّقِينَ  żālikal-kitābu lā raiba fīh, hudal lil-muttaqīn Kitab (Al-Quran) ini tidak ada keraguan padanya, petunjuk bagi mereka yang bertakwa.

Artinya bahwa Al-Qur'an ini hanya akan berfungsi bagi orang - orang yang bertakwa saja. Salah satu cara meraih takwa dengan shiam Ramadhan.

Coba saja perhatikan disekeliling kita, ketika ada anak - anak kita mampu menahan lapar dan dahaga sementara para lelaki - lelaki tegar perkasa yang mengaku muslim masih banyak yang tak mampu melakukannya. Itulah takwa yang dimaksud Allah SWT.

Kita diberi 12 bulan perjalanan waktu setahun. Dalam perjalanan waktu itu Allah beri puncak kebaikannya dalam Ramadhan. Dan di dalam Ramadhan ini ada satu malam dalam bidikan seluruh umat muslim, yaitu Lailatul Qadr.

Bagaimana membidik agar tepat di jantung lailatul qadr ?

Rasulullah SAW telah memberi tips agar lailatul qadr tak lari dari frame bidikan mata hati dengan hadits yang sangat akrab di telinga - telinga kita.

" Carilah malam lailatul qadr di malam - malam ganjil dari sepuluh malam terakhir di bulan Ramadhan."  (HR: Bukhari).

Kini kita telah berada di pelataran sepuluh hari terakhir itu. Rasulullah dan para sahabat menikmati jamuan istimewa ini dengan keta'atan i'tikaf, memutus komunikasi dengan orang - orang di sekitarnya kecuali hanya pada sang Khalik.

Tak bisakah kita memastikan sisa malam - malam ini berdiam diri ?

Temans,  Benamkan dirimu dalam sujud - sujud panjang, menderaskan bacaan Al-Qur'an, menjalin rasa dengan Allah, tenggelam dalam lafafz - lafadz cinta yang terus dialirkan hitungan detak jantung tanpa henti sepanjang malam - malam istimewa yang sebentar lagi pergi meninggalkan kita. Maka pastikan lailatul qadr masuk dalam bidikan anak panah kita dengan lafadz cinta pada Allah SWT.

Semoga kita diizinkan membawa pulang hasil buruan di sepuluh malam - malam ini, dan menyediakannya dalam jamuan istimewa bersama Allah SWT di timbangan hari penentuan, tumpukan amal kebaikan yang menyaingi usia umat nabi - nabi sebelumnya.

" Dan Kami akan tegakkan timbangan yang adil pada hari Kiamat, sehingga tidak seorang pun yang dirugikan walaupun sedikit. Jika amalan itu hanya seberat biji sawipun, pasti Kami akan mendatangkan (pahala)nya. Dan cukuplah Kami sebagai pembuat perhitungan.” ( QS : Al-Anbiya’ 21: 47 ).

اَللَّهُمَّ اِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّى Allahumma innaka 'afuwwun tuhibbun 'afwa fa'fu 'annii...

"Ya Robbi, Engkau Maha Pema'af dan Engkau mencintai orang yang meminta ma'af. Aku mohon ma'af kepada-Mu, karenanya ma'afkanlah aku." Wallaahu a'lam bishowab (*)

Geldrop, 24 Ramadhan 1442 H.