Halal Bi Halal, Miniatur Membangun Persaudaraan di Maluku

Halal Bi Halal, Miniatur Membangun Persaudaraan di Maluku
Wakapolres Buru, Bachri Hehanussa bersama beberapa rekan Alumni SMA/ SMA, di sela-sela Halal Bi Halal yang digalar di Swissbel Hotel Ambon, Minggu (7/7/2019) (FOTO:BERITABETA.COM)

BERITABETA.COM,  Ambon – Ahli Utama Presiden RI, Febry Kalvin Tetelepta mengungkapkan konsep perayaan Halal Bi Halal di Maluku merupakan miniatur yang baik untuk membangun persaudaraan di Maluku. Konten Halal Bi Halal, sejatinya memiliki makna paling positif yang berdampak mengikat rasa cinta, kebersamaan diantara sesama manusia.

“Kegiatan ini bersifat mengikat persaudaraan yang lebih kuat, karena tanpa sadar semua orang mau berkumpul dan melepas semua sekat yang ada.“kata Kalvin Tetelepta di sela-sela kegiatan Halal Bi Halal alumni SMA/SMK Angkatan 1987 se- Kota Ambon yang digelar di Swissbel Hotel, Ambon, Minggu (7/7/2019).

Menurut dia, kegiatan seperti ini harus dijadikan momentum untuk mengkonsolidasikan diri, agar menciptakan sebuah proses yang baik untuk Maluku kedepannya.

“Dalam kelompak kami, ada yang berstatus Waka Densus 88, Bupati, kepala dinas, dosen dan berbagai stakeholder lain. Saya kira ini sebuah langkah baik untuk mendorong pembangunan di Maluku,” ujarnya.

Pada sisi lain, langkah ini juga menjadi embrio bagi sebuah persaudaraan yang sejati di Maluku. Artinya, untuk membangun Maluku tidak bisa dilakukan sendiri-sendiri, tetapi saling menopang antara satu sama lain.

“Hubungan baik seperti informal maupun formal, bisa dikerahkan untuk membangun Maluku,” katanya.

Sementara Waka Densus 88 Mabes Polri, Brigjen Pol Martinus Hukom menjelaskan, Halal Bi Halal berawal dari akar budaya bangsa Indonesia. Setelah menelusuri berbagai literasi, kata dia, hampir tidak ditemukan artinya dalam Bahasa Arab.

Dia mengatakan, Halal Bi Halal tumbuh dari suatu budaya toleransi kemudian dibakukan oleh Soekarna di masa pemerintahannya, sehingga bagi dirinya kegiatan ini adalah momentum luar biasa.

Kegiatan ini, kata dia, sangat penting dilaksanakan karena kalau berbicara soal persaudaraan atau kelompok, maka perlu adanya sebuah ikatan yang lebih besar dari sekedar agama, suku maupun ras, yakni budaya bangsa.

“Budaya adalah suatu ikatan, nilai yang lebih besar dari agama atau etnik. Memaknai Hal Bi Hal malam ini adalah untuk mengikat kembali rekan-rekan yang kiranya selama 32 tahun terpisah,” ujarnya.

Dengan persatuan ini, lanjut dia, maka semua perbedaan seperti Islam, Kristen, Hindu, Budha hilang dengan sendirinya. Dia berharap, bukan hanya angkatan 1987 saja, namun ada reuni lain yang bisa dilakukan untuk mengangkat nilai-nilai positif.

“32 tahun itu bukan waktu yang singkat. Ini pertemuan yang paling luar biasa. Semoga kita bisa memberi motivasi kepada generasi kita agar lebih berhasil lagi. Karena sejarah itu adalah kumpulan berbagai keberhasilan,” katanya.

Senada itu, Ketua Panitia Hal Bi Halal angkatan 1987, Kompol Bachri Hehanussa mengaku, kegiatan tersebut guna menghimpun dan menyatukan alumni delapan tujuh se-kota Ambon. Tujuannya hanya satu, yakni ingin membentuk wadah.

“Kita mempunyai sumber daya manusia yang baik. Sehingga bisa membentuk kontribusi positif untuk pembangunan di Maluku kedepannya,” katanya.

Menurutnya, ini adalah langkah awal dan kedepan mereka bisa membuat kegiatan-kegiatan serupa untuk melegalesir seberapa banyak kekuatan alumni yang ada di Kota Ambon.

Menurut Hehanussa, kegiatan ini juga dimaksudkan bisa menjadi peluang dalam mendorong pembangunan di Maluku.

“Bagi kami alumni 1987 se-Kota Ambon adalah sebuah potensi besar untuk masyarakat Maluku. Ini juga merupakan miniature ke-Malukuan kita,” katanya (BB-NA)

Close Menu