Petani   Binaan Program SOLID di Desa Hatusua, ketika didampingi oleh Pendamping Program SOLID dalam proses pembinaan.
Petani Binaan Program SOLID di Desa Hatusua, ketika didampingi oleh Pendamping Program SOLID dalam proses pembinaan.

Komoditi Jagung jadi Perimadona Masa Depan Petani

BERITABETA, PIRU – Sejatinya Desa Hatusua, Kecamatan Kairatu, Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB), telah menjadi contoh konkrit adanya keberhasilan yang ditorehkan program SOLID di Provinsi Maluku. Tentunya, Hatusua adalah satu di antara sejumlah desa yang ikut bergeliat dan maju akibat intervensi program ini. Puluhan petani merasakan dampak itu. Didukung dengan rantai pemasaran yang memadai, menjadikan Hatusua sebagai perimadona baru di kabupaten berjuluk “Saka Mese Nusa” ini.

Sebelum program SOLID menyembangi desa dengan penduduk ± 733 jiwa ini, Desa Hatusua tak ubahnya desa-desa lain di Kabupaten SBB. Tidak ada yang menonjol. Penduduk desa sebagian besar yang adalah petani itu, hanya menggantungkan hidupnya dengan bertani seadanya.

Beberapa kelompok tani pun dibentuk, namun aktifitasnya berjalan apa adanya. Masing-masing warga hanya berusaha sesuai kebutuhan. Fokus mereka  beragam, meski didominasi dengan kegiatan menanam komoditi hortikultura, tapi harapan menjadikan profesi bertani sebagai sumber pendapatan, sangat jauh dari harapan.

Fenomena klasik ini kemudian perlahan berganti, setelah Manajemen SOLID Kabupaten SBB, menetapkan Desa Hatusua sebagai salah satu desa binaan program SOLID di Kecamatan Kairatu.  Dengan letak geografis yang mumpuni, ditambah dengan luas lahan pertanian yang menjanjikan, Hatusua seakan menjadi “magnet” bagi investasi masa depan petani. Tahun 2014 menjadi awal dibentuknya sebanyak tiga kelompok mandiri (KM) oleh manajemen SOLID.

“Saat itu kita memulai dengan membentuk tiga kelompok mandiri. Jumlah ini adalah ketentuan yang ditetapkan dalam program SOLID, maka kami pun memulainya dengan memilih sejumlah petani di desa ini yang bergabung dalam tiga KM masing-masing KM. Tunas Baru, Teratai dan Waiyari,”kata Yasir Latuconsina, Pendamping Desa Program SOLID.

Sejak terbentuknya kelembagaan KM,  langkah selanjutnya  dilakukan manajemen SOLID dengan menentukan komoditi unggulan yang harus dikembangkan di Desa Hatusua. Rapat pun digelar bersama KM binaan SOLID dan pihak manajemen. Berdasarkan skala prioritas pengembangan empat komoditi yang ditetapkan manajemen SOLID SBB yang meliputi, komoditi jagung, kakao, kelapa dan pala, maka untuk Hatusua kemudian disepekati untuk dikembangkan sebagai sentra budidaya tanaman jagung.

Penentuan komoditi bernama Zea Mays (jagung), sebagai komoditi unggulan yang dikembangkan di Desa Hatusua, seakan menjadi berkah bagi petani setempat.  Tiga KM yang dibentuk memulai usaha pengembangan jagung. Hasilnya pun mulai dirasakan, karena pasar untuk menjadi sasaran penjualan hasil produksi petani juga tersedia di desa.

Hasil panen Jagung petani binaan SOLID di Desa Hatusua, Kecamatan Kairatu

“Di tahun 2015,  KM. Tunas Baru  memproduksi jagung sebanyak, 1,3 ton. Hasil ini diperoleh dari lahan seluas 0,5 ha yang dikembangkan,” kata Yasir.

Kamajuan yang dirasakan di petani Hatusua, khususnya yang diperoleh KM Tunas Baru, bergilir kemudian ditorehken juga oleh dua KM lainnya. Hasil panen jagung yang mencapai beberapa ton di tahun berikut, lantas dibeli oleh salah satu pengusaha lokal bernama Benjamin. Jalinan kerjasama yang dilakukan dengan pengusaha lokal itu telah menjadi kabar baik dari apa yang dikembangkan petani binaan di desa tersebut.

Pada mulanya, petani Desa Hatusua, melihat adanya peluang kerjasama dengan pengusaha lokal itu, lantaran yang bersangkutan merupakan peternak ayam, yang setiap bulannya harus mensuplay pakan ternak dari pulau Jawa. Pakan ayam yang berbahan baku jagung itulah dianggap sebagai peluang untuk menawarkan kerjasama dengan petani.

“Alhamdulillah keinginan kami pun disanggupi dan pada panen perdana, jumlah yang dihasilkan langsung dibeli oleh Benjamin dengan harga Rp.4000 per kg,  selanjutnya sirkulasi itu berjalan terus, “ungkap Yasir.

Dari kerjasama itu, Benjamin yang memiliki 1000 ekor ternak ayam tidak lagi menyuplay pakan dari pulau Jawa.  1000 ekor ternak ayam diasumsikan membutuhkan 1 ton pakan ternak, sehingga kebutuhan pasar oleh petani jagung dapat terpenuhi begitu juga, kebutuhan pakan yang harus disediakan Benjamin dapat teratasi.

Prospek pengebangan kooditi jagung di Desa Hatusua, terbilang cukup menjanjikan, selain potensi lahan garapan yang cukup menjajikan, intervensi program SOLID yang terbilang komplit di beberapa komponen yang meliputi pemberdayaan, pertanian, pemasaran dan value chain (rantai nilai), cukup menggairahkan semangat  petani binaan SOLID di Desa Hatusua.

Petani yang awalnya hanya bertani sebagai upaya memenuhi kebutuhan rumah tangga, kini bergeser pola pikirnya menjadi petani berjiwa pengusaha. Berbekal intervensi bantuan dari program SOLID berupa dana Matching Fund dan Revolving Fund, hasrat petani untuk mengembangkan usaha berbasis bisnis terus dikebangkan. Wal hasil, keinginan pemerintah daerah melalui program SOLID untuk menjadikan Desa Hatusua sebagai sentral produksi jagung di Kabupaten SBB, mulai terlihat nyata.

“Kita masih tetap fokus sampai saat ini, varietas yang dikembangkan adalah ADV-313 dan ADV 78, kedua varietas ini yang dianggap cukup potensial dikebangkan,”kata Yasir.

Menurut Yasir, hasil produksi jagung yang dihasilkan petani di tahun-tahun pertama intervensi program memang masih jauh dari harapan, karena belum memenuhi standar nasional yang harus dicapai per ha mencapai 5 – 6 ton per ha. Kondisi ini dinilai sangat wajar, karena petani belum menguasai teknologi budidaya. Dan di tahun 2016, hasil itu sudah dicapai dengan baik mencapai 5,2 ton per ha.

Guna menopang usaha tani budidaya jagung yang dikebangkan petani di Hatusua, pihak manajemen SOLID SBB, juga telah melakukan intervensi dengan menyalurkan sejumlah peket bantuan sarana dan prasarana. Dan hingga tahun 2017 silam, petani binaan di desa tersebut, sudah memiliki sejumlah failitas berupa peralatan dan bangunan penunjang meliputi; mesin pemipil 2 unit, tracktor mini  1 unit, cultivator 1 unit. Sedangkan untuk sarana penunjang telah dibagun gedung penampungan (gudang) dan kantor federasi yang dikelola langsung oleh Federasi Risa Mena.

“Kini dengan hadirnya Federasi Risa Mena, konsep rantai nilai yang diinginkan SOLID sudah berjalan dengan baik. Federasi berfungsi pengumpulkan hasil produksi dan keudian dipasarkan kepada pengusaha skala besar, sudah terjadi. Kami optimis, kedepan pasca berakhirnya intervensi Program SOLID, petani binaan SOLID sudah akan mandiri,”tandas Yasir Latuconsina.

Geliat intervensi Program SOLID di Desa Hatusua dengan perkembangan yang cukup menggembirakan melalui  intervensi program SOLID ini juga tidak terlepas dari peran PPL dan pihak LSM melalui fasilitator desa (fasdes) yang ditempatkan.

Dari perkembangan yang diperoleh ini juga telah mengantarkan Yasir Latuconsina (PPL) sekaligus pendamping SOLID di desa tersebut, menorehkan sejumlah prestasi gemilang di tingkat nasional. Yasir pernah dianugerahi Penyuluh Teladan tahun 2014 tingkat Nasional dari Provinsi Maluku dan di tahun 2016 juga menerima penghargaan Adikarya Pangan Nusantara tahun 2016 di Jakarta mewakili Provinsi Maluku dari Kabupaten Seram Bagian Barat . (dhino pattisahusiwa)