BERITABETA.COM, Bula — Komisi III DPRD Provinsi Maluku menggelar Rapat Dengar Pendapat [RDP] membahas bencana alam yang terjadi di Negeri Werinama, Kecamatan Werinama, Kabupaten Seram Bagian Timur [SBT] beberapa waktu lalu.

Rapat tersebut menghadirkan Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat [PUPR], Badan Penanggulangan Bencana Daerah [BPBD] dan Balai Wilayah Sungai [BWS] Maluku serta perwakilan masyarakat Kecamatan Werinama di ruang rapat Komisi III, Karang Panjang, Selasa (12/7/2022).

Anggota Komisi III DPRD Maluku Muhammad Fauzan Husni Alkatiri kepada wartawan usai rapat tersebut mengungkapkan, pelaksanaan rapat yang dipimpin Ketua Komisi III Richard Rahakbauw itu untuk merespon surat masuk dari masyarakat Werinama terkait bencana yang mengakibatkan 60 kuburan warga tergerus air Sungai Wailissa.

"Komisi memanggil pihak BWS dan PUPR terkait surat masuk dari masyarakat Werinama atas kejadian bencana disana serta beberapa lokasi bencana yang terjadi di Kota Ambon," ungkap Muhammad Fauzan Husni Alkatiri.

Anggota DPRD Maluku dari Daerah Pemilihan [Dapil] SBT ini menegaskan, Pemerintah Daerah [Pemda] seharusnya hadir dalam setiap kejadian bencana, bahkan pemerintah tidak boleh tuli, bisu atau berdiam diri terhadap permasalahan bencana alam yang terjadi di daerah ini.

Dia berdalih, kondisi bencana seperti ini sudah berulang kali terjadi pada lokasi yang sama, sehingga kondisi ini menggambarkan ketidakhadiran pemerintah dalam situasi bencana disana.

Menurutnya, kejadian di Negeri Werinama itu bukan baru pertama kali terjadi, namun sudah berulangkali tanpa adanya penangangan dari Pemda.

"Selama ini terlihat bahwa negara tidak hadir, karena tanggungjawab penanganan bukan saja Pemda tapi juga pemerintah pusat, sehingga harus ada keterlibatan semua stakeholder," ucapnya.

Politisi Partai Keadilan Sejahtera [PKS] ini mengaku, hasil dari pertemuan tersebut telah mendapat jaminan dari BWS dan PUPR untuk segera mengambil langkah penanganan terhadap dampak dari bencana yang terjadi.

Kendati demikian, dia menginginkan agar segera ada langkah penanganan disekitar bantaran sungai Wailissa, agar tidak ada abrasi yang kembali membawa makam.

"Harapan kita, harus ada semacam pengendalian banjir di hulu sungai, sehingga bisa mengatur debit air yang turun ke kampung," harapnya (*)

Pewarta : Febby Sahupala