Azis Tunny sebagai Direktur Lembaga Studi Politik dan Demokrasi (LSPD) saat memberikan sambutan dan membuka salah satu seri diskusi kebangsaan yang digelar rutin oleh LSPD. (Foto : Dok pribadi)
Azis Tunny sebagai Direktur Lembaga Studi Politik dan Demokrasi (LSPD) saat memberikan sambutan dan membuka salah satu seri diskusi kebangsaan yang digelar rutin oleh LSPD. (Foto : Dok pribadi)

Dari Jurnalis Hingga Menerima Australia Leadership Award

BERITABETA.COM – Sebagai pendatang baru yang ikut berkontestasi dalam pemilihan anggota legislatif tahun 2019, Muhammad Azis Tunny tidaklah muncul tiba-tiba. Meskipun bukan berasal dari kalangan elit politik di daerah ini, namun namanya tidaklah asing bagi publik Maluku.

Bapak dua anak kelahiran Ambon, 25 Februari 1981, ini menyelesaikan pendidikan SD, SMP hingga SMA di Masohi, Kabupaten Maluku Tengah. Lulus SMA tahun 1999, ketika itu Maluku dilanda konflik sipil, membuatnya enggan meninggalkan keluarga untuk studi lanjut di luar daerah. Pilihannya jatuh pada kampus Universitas Darussalam (Unidar) Ambon yang berbasis di Tulehu, Salahutu. Saat itu Unpatti bukan pilihan, sebab tidak kondusif untuk kuliah.

Pria murah senyum yang akrab disapa Agil ini tidak tumbuh secara instan, atau sekadar mendompleng nama besar keluarga. Secara mandiri, dia melewati proses cukup panjang. Dari bawah, dan penuh dinamika. Kiprahnya di mulai saat duduk di bangku kuliah di Unidar Ambon, tahun 1999. Di semester satu Fakultas Ekonomi, ia diangkat menjadi ketua angkatan, Fokasis. Pada semester dua, Azis membawa sebagian anggota Fokasis melakukan studi banding ke UNHAS dan UMI di Makassar, Sulawesi Selatan, tanpa didampingi dosen maupun senior kampus.

Sejak mahasiswa Azis sudah melalang-buana ke Makassar, Yogyakarta, Jakarta, Bandung, hingga Palembang. Aktif di Ikatan Senat Mahasiswa Ekonomi Indonesia (ISMEI), Azis terlibat dalam serangkaian kegiatan ISMEI di Makassar, hingga menjadi peserta Kongres ISMEI di Palembang, tahun 2000.

Aktivitas keluar daerah ini dilakukan dengan penuh perjuangan. Selain menggunakan transportasi kapal Pelni, saat sudah berada di atas kapal, Azis bersama rekan-rekannya kerap melobi kapten maupun mualim kapal sekadar untuk mendapatkan dispensasi harga tiket. Semua yang dilakukan dengan modal nekat tersebut, selalu berbuah manis.

Tahun 2000 juga, Azis mengikuti Latihan Kepemimpinan (LK) I yang dilaksanakan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) komisariat sejajaran Unidar, dan terdata sebagai anggota HMI Komisariat Ekonomi Unidar. Di tahun yang sama, ia mengikuti pendidikan dan pelatihan dasar (Diklatsar) anggota Perhimpunan KANAL Ambon, organisasi pecinta alam yang juga concern pada isu sosial kemasyarakatan, kebudayaan dan pariwisata.

Sebagai Ketua Umum Perhimpunan KANAL Maluku di malam penganugerahan Hijau Kanal Rupidara ke-2, tanggal 1 September 2018 di Hotel Santika Ambon. Acara ini merupakan apresiasi kepada para pejuang lingkungan hidup di Maluku, baik perorangan, organisasi, maupun media massa.

Azis pertama kali mengenal dunia jurnalistik saat mewakili Perhimpunan KANAL mengikuti pelatihan dasar jurnalistik yang dilaksanakan Tabloid Suisma di Ambon, tahun 2001. Sepulang dari pelatihan itu, dia diajak oleh seniornya, Hanafi Holle, untuk bergabung di Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Unidar. Mereka lalu menerbitkan buletin kampus, Tafakur. Hanafi adalah senior sekaligus gurunya di kampus. Azis belajar dunia aktivis dan pergerakan, sekaligus mendalami dunia jurnalistik karena dimentori langsung oleh Hanafi yang kini menjadi dosen IAIN Ambon.

Februari 2002, Azis mendapat kiriman surat dari seniornya, Hanafi. Isi surat itu memintanya bergabung dengan surat kabar yang akan terbit, Koran Info. Sekitar dua minggu mengikuti in house training di Hotel Wijaya Ambon, Azis lalu bergabung sebagai jurnalis di koran yang berkantor di Mardika itu. Tanggal 1 April 2002, Koran Info yang didirikan oleh para eks jurnalis Tablois Suisma itu diluncurkan pertama kali. Namun sayang, koran harian yang pertama kali mempekerjakan jurnalis dari dua komunitas agama sejak pecah konflik itu hanya bertahan sembilan bulan, lalu kolaps karena masalah manajemen dan keuangan.

Sambil kuliah, aktivitas Azis tidak berhenti sampai di situ. Dia aktif membantu kegiatan-kegiatan Maluku Media Centre (MMC), rumah bersama wartawan yang didirikan tahun 2001 untuk memediasi wartawan Islam dan Kristen saat konflik, sekaligus untuk kampanye peace journalism (jurnalisme damai) kepada para pekerja media mainstraim di Maluku. Kantor MMC dan Info Baru kebetulan berdekatan. Sama-sama berada di daerah perbatasan konflik di Mardika.

MMC yang saat itu masih berstatus program Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia di Jakarta, mengutus Dino Umahuk sebagai office managernya. Dino adalah seniornya di Kampus Unidar, maupun organisasi Perhimpunan KANAL Ambon. Dia pendiri Perhimpunan KANAL Ambon, sekaligus ketua umum pertamanya. Selepas kuliah, Dino hijrah dan membangun karir di Jakarta, namun kembali ke Ambon saat mendapat penugasan dari AJI Indonesia. Di MMC, mereka berdua bertemu lagi dan kerap beraktivitas bersama. Dari Dino pula, Azis banyak belajar.

Azis sementara berorasi di depan Markas Polda Maluku saat aksi kasus kebebasan pers di Maluku.

Februari 2003, MMC kedatangan tamu, Ketua AJI Indonesia, Ati Nurbaiti, yang juga Editors The Jakarta Post, group Kompas Gramedia. Setelah mendampingi Ati Nurbaiti melakukan liputan di Ambon, Azis diajaknya menjadi koresponden The Jakarta Post untuk wilayah Maluku. Tentu saja tawaran ini langsung dia terima. Sejak saat itu, Azis selalu mewartakan berita-berita dari Maluku, juga Maluku Utara, melalui koran berbahasa Inggris tersebut.

Konflik 25 April 2004, kembali mengusik rasa damai masyarakat Maluku. Azis bersama sekitar 50 jurnalis dari berbagai media di Ambon, dikumpulkan di Makassar untuk mengikrarkan pesan damai dari para pekerja media dan mengajak agar pemerintah dan masyarakat bersatu untuk menciptakan perdamaian. MMC yang tadinya sebatas program dari AJI Indonesia kemudian bermetamorfosis menjadi organisasi yang mandiri, dan dikelola langsung oleh para jurnalis di Maluku.

Periode pertama MMC dipimpin Ahmad Ibrahim, periode kedua lembaga ini dipimpin oleh Rudi Fofid. Saat musyawarah MMC ke-3 tahun 2007 di Hotel Wijaya Ambon, Azis dipercayakan oleh para wartawan di Maluku untuk memimpin organisasi ini di usianya yang masih terbilang belia, 26 tahun. Saat itu Azis memimpin 300 lebih jurnalis di Maluku, baik media cetak maupun elektronik. Media lokal dan nasional.

Kepemimpinannya membawa pengaruh sangat positif dan disebut-sebut sangat berhasil karena sukses menyelenggarakan kegiatan peningkatan kapasitas jurnalis dan media hingga ke daerah-daerah, termasuk aktif mengkampanyekan profesionalisme pers, jurnalisme damai dan kebebasan pers.

Dia rutin menerbitkan buletin Tabaos MMC setiap bulan untuk sosialisasi aktivitas lembaga dan kampanye isu-isu yang menjadi concern MMC. Kehadiran Tabaos MMC bukan saja melakukan kampanye dan kritik, tapi juga otokritik kepada pers itu sendiri. Selama memimpin MMC, Azis menerbitkan tiga buah buku yakni “Antara Kriminalitas dan Ketidakpahaman – Kasus Defamasi Pers Maluku”, “Mozaik Pers di Negeri Raja-Raja”, serta “Potret Jurnalis Ambon – Survey Kesejahteraan dan Profesionalisme Jurnalis Ambon”.

Azis berhasil meyakinkan lembaga donor internasional untuk membantu MMC seperti FreeVoice (Belanda), UNDP (program Peace Through Development), UNICEF hingga Kedutaan Besar New Zealand. Semasa dia, sejumlah kedutaan negara sahabat selalu datang menemuinya dan berdiskusi di Kantor MMC seperti Kedutaan Amerika Serikat, Australia, Inggris, Belanda maupun New Zealand. Dua tahun lebih memimpin MMC, Azis tidak menggunakan satu rupiah pun dana pemerintah Indonesia, namun dia berhasil mewarisi dana simpanan bagi kas organisasi MMC hingga Rp400 juta lebih di akhir masa jabatannya.

Azis saat hadir di International Conference Broadcast Asia di Singapura, tahun 2014

Setelah demosioner dari MMC, Azis bersama sejumlah sahabatnya mendirikan AJI Kota Ambon, salah satu asosiasi pers di Indonesia yang tegas pada prinsip independensi dan profesionalisme pers. Dari AJI, lahirlah Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Pers Ambon, lembaga yang menyediakan dan memberikan jasa bantuan hukum secara cuma-cuma atau prabono kepada jurnalis dan media di Maluku yang tersangkut kasus sengketa pers.

Tahun 2009, Azis menerima Australia Leadership Award (ALA) Fellowship dari Asia Pacifik Journalism Centre (APJC) dan AusAID. Ia lalu diundang mengikuti program belajar di Melbourne, Australia. Di Australia, Azis berkesempatan melakukan study trip ke Canberra dan Sydney.

Masih di tahun 2009, Azis terpilih menjadi anggota Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Maluku yang dipilih oleh DPRD Provinsi Maluku melalui seleksi dan fit and proper test (uji kelayakan dan kepatutan) yang ketat. Periode pertama dia menjadi Wakil Ketua KPID Maluku, periode kedua setelah terpilih lagi, dia diangkat secara aklamasi menjadi Ketua KPID Maluku.

Tahun 2010, Azis diundang oleh East-West Center untuk mengikuti International Media Conference 2010 di The University of Hongkong, dan berkesempatan mengikuti study tour ke Dongguan dan Shenzhen di China. Pada tahun 2014, Azis juga hadir sebagai peserta International Conference Broadcast Asia 2014 di Singapura. (Bersambung)