Sagu Maluku Terancam Punah, Saadiah Ungkap Beberapa Faktor Penentu

Tahun 2018, satu warga perdesaan mengonsumsi 13 kilogram sagu dalam satu minggu. Sementara satu warga perkotaan mengonsumsi hanya 0,4 kilogram sagu dalam satu minggu.
Ini menunjukkan, ada penurunan konsumsi sagu di perkotaan. Orang kota lebih memilih beras ketimbang sagu.
Bila dibandingkan dengan tingkat konsumsi beras, satu orang di perkotaan mengonsumsi 1,43 kilogram beras per minggu, sedangkan masyarakat desa mengonsumsi 1,48 kilogram beras per minggu. Tingkat konsumsi beras diperkirakan akan terus meningkat.
Sementara data yang dihimpun dari BPTP Maluku menyebutkan komoditi sagu dapat menghasilkan pati sebesar 15-25 ton/ha/tahun, jauh lebih tinggi dibandingkan dengan beras, jagung dan gandum yang hanya menghasilkan pati berturut-turut sebesar 6 ton, 5,5 ton, dan 2,5 ton/ha/tahun.
Selain itu, setiap pohon sagu dapat menghasilkan 200 kg tepung sagu basah per tahun. Ini artinya memposisikan sagu dalam ketahanan pangan lokal merupakan salah satu langkah strategis yang mempunyai implikasi yang lebih jauh ke depan.
Apalagi, potensi sagu di Maluku cukup besar, menempati urutan kedua setelah Provinsi Papua, sehingga pemanfaatannya harus dioptimalkan untuk membuka peluang industry (BB-DIO)