Ia mengatakan, implementasi penggunaan bahasa daerah sebagai pola komunikasi ke dalam lima ranah ini merupakan wujud pelestarian bahasa daerah. Atas dasar ini, pihaknya berkesempatan untuk menjalankan program survey dan revitalisasi yang difokuskan kepada dua negeri di Pulau Saparua ini.

Sementara itu, Camat Saparua Timur, Halid Pattisahusiwa, dalam kesempatan itu menyampaikan apresiasinya atas upaya yang tengah dilakukan  Kantor Bahasa Provinsi Maluku.  

Dikatakan, langkah dan upaya yang dilakukan Kantor Bahasa Provinsi Maluku dalam melestarikan bahasa daerah di Kecamatan Saparua Timur sungguh merupakan hal yang sangat diperlukan, terutama pada era Revolusi Industri 4.0 dengan fenomena yang mekin bergeliat saat ini.

“Kita butuh tools untuk menggerakkan semua ini. Dan ini kesempatan bagi kita sebagai masyarakat yang memegang teguh nilai-nilai adat itu. Tentu harapannya warisan bahasa yang sangat berharga ini mampu kita lestarikan kepada generasi di masa mendatang,” jelasnya.

Menurutnya, peningkatkan dan pelestarikan serta eksistensi bahasa daerah bagi sebuah komunitas masyarakat merupakan sebuah kebutuhan yang sangat penting, sehingga  proses penerusan nilai-nilai adat, kultur dan budaya kepada generasi penerus tetap terjaga dengan baik.

“Berbagai fungsi bahasa yaitu fungsi komunikasi,  edukasi dan kultural diharapkan dapat membangun kembali citra bahasa daerah yang saat ini terancam punah melalui aspek keluarga, pendidikan dan masyarakat,” terangnya.

Untuk itu, Pattisahusiwa berharap Pencanganan Kampung Bahasa di Negeri Siri Sori dan Kulur merupakan langkah awal sebagai hasil out put dari survei dan koordinasi Kegiatan Revitalisasi Bahasa Siri Sori dan Kulur ini.

Ia menambahkan, program ini juga akan dirangkai dengan berbagai macam lomba seperti kuliner, drama dan pidato dengan menggunakan bahasa Siri Sori dan Kulur.

“Tujuannya  sebagai upaya perlindungan, pelestarian dan pengembangan bahasa daerah sebagai kearifan lokal agar terhindar dari kepunahan,” tandasnya (BB-ES)