Imanuel R. Balak, S.H (Mahasiswa Magister Hukum Litigasi Universitas Gadjah Mada Yogyakarta)
Imanuel R. Balak, S.H (Mahasiswa Magister Hukum Litigasi Universitas Gadjah Mada Yogyakarta)

DI dalam politik ‘everything is possible’. Maka tidak hera jika Niccoló Machiavelli membabtis politik dengan doktrin “aforisma”, tujuan menghalalkan segala cara. Sebab itu, politik dikenal sebagai seni.

Seni mencari dan menemukan kemungkinan dan menangkap alternatif.  Dalam politik (praktis), apa yang sering dianggap “tabu” justru memainkan peran sentral dalam meraih kekuasaan. Bahkan tak pelak yang ideal justru dianggap janggal dan asing. Makanya di dalam politik, para politisi dan politikus yang jujur dan memiliki kualifikasi moral yang mumpuni sering tak berhasil meraih kursi kekuasaan.

Alasannya, politik adalah ruang yang didominasi oleh kerajaan-kerajaan tujuan dengan aneka kepentingannya. Disebut demikian karena tujuan-tujuan dalam politik bukan hanya semata-mata untuk menciptakan kesejahteraan umum dan menata masyarakat supaya menjadi lebih baik, melainkan lebih dari itu politik juga senantiasa digerogoti oleh aneka tujuan yang tersembunyi dan bersifat pribadi serta pragmatis.

Ranah politik praktis memang kadang susah dibaca. Mengapa? Sangat boleh jadi politik praktis didominasi oleh aktor-aktor bawah tanah. Aksi-aksi yang muncul di permukaan seringkali hanyalah bayang-bayang yang menghalau atensi para pengamat politik serentak memanipulasi taktik para lawan politik.

Teori ini mungkin ada benarnya. Narasi tentang prilaku politikus itu terbangun karena mengambil kondisi secara umum. Namun, tidak pula semua politisi dapat  dicap memiliki karekter demikian.

Satu yang tampak terlihat mungkin yang kini dilakukan bakal calon kepala daerah di Kabupaten Seram Bagian Timur (SBT) ini. Dialah Rohani Vanath (RV) yang digadang melalui jalur perseorang (independent).

Sepintas, bagi orang yang cenderung melihat tingkah Rohani Vanath dari sisi politik, pastinya penilaian yang terbagun adalah, semua tindakan yang dilakukan adalah sebuah pencitraan dari sebuah ambisi.

Pendapat ini memang tidak ada salahnya dan sukar untuk dibantah, namun bila dilihat dengan kacamata sosial, maka penilain itu pudar, sebab tidak semua politisi atau orang yang berada di ranah politik merehlakan diri untuk melakukan hal-hal yang terlihat seperti ‘dipaksa’.

Rohani Vanath, kerap terlihat agak tulus melakukan segalanya,meski kemunculannya karena disokong oleh salah satu tokoh politik lokal ternama Abdullah Vanath yang tak lain suaminya, namun tampilannya sangat berbeda dengan politisi kebanyakan.