Raja Petuanan Kayeli, Abdullah Wael bersama sejumlah tokoh adat saat bertemu Kasat Intel Polres Pulau Buru, Iptu Sirilus Atajalim di Mapolres Pulau Buru, Senin (05/04/2021).
Raja Petuanan Kayeli, Abdullah Wael bersama sejumlah tokoh adat saat bertemu Kasat Intel Polres Pulau Buru, Iptu Sirilus Atajalim di Mapolres Pulau Buru, Senin (05/04/2021).

BERITABETA.COM, Namlea – Sejumlah tokoh adat di Kabupaten Buru , Provinsi Maluku, memastikan bakal memasang sasi (larangan adat) di kawasan eks tambang emas Gunung Botak, Desa Dava, Kecamatan Waelata.

Pemasangan sasi ini dimaksudkan untuk mencegah kembalinya aktivitas Penambangan Tanpa Izin (PETI) emas di kawasan tersebut. Keputusan pemasangan sasi ini akan diputuskan Rabu 7 April 2021.

"Nanti akan dikoordinasikan waktunya kapan, tanggalnya kapan akan dilakukan sasi," kata  Raja Petuanan Kayeli, Abdullah Wael kepada para wartawan bersama sejumlah tokoh adat bertemu Kasat Intel Polres Pulau Buru, Iptu Sirilus Atajalim di Mapolres Pulau Buru, Senin (05/04/2021).

Sebelum bertemu dengan Kasat Intel Iptu Sirilus Atajalim, Abdullah Wael dan beberapa tokoh adat telah duluan melontarkan ide pemasangan sasi di Gunung Botak itu.

Abdullah bersama sejumlah tokoh adat diundang ke Polres Pulau Buru menyusul adanya pertemuan tanggal 1 April di Desa Dava, Kecematan Waelata dan dibukanya Gunung Botak pada tanggal 2 April lalu.

Mewakili atasannya, Iptu Atajalim menegaskan, tindakan untuk masuk ke kawasan Gunung Botak  tanpa izin resmi pemerintah adalah keliru dan dapat dikenakan sanksi hukum.

Atajalim juga menyentil adanya pungutan Rp.1 juta rupiah dari orang adat terhadap PETI yang masuk ke Gunung Botak pasca aparat TNI - Polri ditarik dari kawasanb tersebut 23 Maret lalu.

Untuk itu, Abdullah disarankan mewakili tokoh adat di Petuanan Kayeli agar membuat pernyataan tertulis supaya tidak mengulanginya di kemudian hari. Namun Abdullah Wael dan Kepala Soa Dava, Hasan Belen, menangkis kalau mereka yang menyuruh melakukan pungutan di GB.

Terkait dengan pertemuan tanggal  1 April lalu di Dava, lanjut Abdullah, dia hanya diundang. Pertemuan itu inisiatif para tokoh adat dan dibuka oleh Hinolong Baman, Manailing Besan.

Sedangkan yang terjadi di Gunung Botak tanggal 2 April lalu, kata Abdullah Wael, itu hanya babeto (doa adat) untuk mendoakan keselamatan dan supaya ada rezeki kepada masyarakat adat yang telah duluan masuk mengais rezeki di lokasi tambang emas ini.

Dijelaskan, sebelum ada babeto sudah ada ratusan orang yang masuk ke Gunung Botak, karena kebutuhan perut menjelang puasa dan lebaran Idul Fitri.

Abdullah Wael mengaku tidak mau memikul seluruh beban tanggungjawab dipundaknya tanpa dihadiri seluruh tokoh adat di Petuanan Kayeli, karena babeto itu dianggap keliru dan salah karena telah menjadi stimulan untuk memancing orang kembali masuk ke Gunung Botak.

Karena itu ia dan beberapa tokoh adat sarankan agar dilakukan pertemuan dengan seluruh tokoh adat pada 7 April  di Desa Dava, baru pernyataan di hadapan kepolisian itu akan ditandatangani.

"Kami dari sisi adat sangat menghargai aparat keamanan yaitu TNI/ Polri. Dan kami bersama-sama mereka menertibkan persoalan GB,"kata Abdullah Wael di hadapan para wartwan .

Abdullah mengaku ide sasi adat di Gunung Botak  itu akan dilakukan untuk    membantu TNI-Polri mengamankan GB.

"Semoga hari besok tidak ada lagi kesenjangan, kecurigaan diantara orang-orang yang tidak bertanggungjawab atau menuduh TNI-Polri yang melakukan aktivitas tersembunyi di dalam GB,"kata Abdullah (BB-DUL)